Sabtu, 22 Maret 2014

#Bincang Malam: Kehidupan Masyarakat Suku Baduy

Saya dan suami memang sering melakukan rumpian perbincangan tengah malam. Entah kenapa perbincangan tengah malam kami kali ini jatuh pada tema “Suku Baduy”. Saya jadi teringat, ketika dulu masih menjadi mahasiswa IPB, sering menjumpai beberapa orang Suku Baduy yang masuk ke kampus dan jualan madu hutan. Mereka berpakaian serba hitam, memakai ikat kepala, membawa tas kain, dan tanpa alas kaki. Menurut informasi teman-teman sih mereka berasal dari Suku Baduy Luar. Hmm, ada Baduy Luar pasti ada juga dong Baduy Dalam. Dari pada banyak berangan-angan, jadilah saya kepo tentang masyarakat Suku Baduy.

Gambar diambil dari sini

Orang Baduy/Badui atau orang Kanekes adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Orang Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.
Komunikasi sehari-hari orang Baduy menggunakan Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Baduy Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Jika kita melihat sejarahnya, sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, Priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan kerajaaan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang, malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua” Artinya: “jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“

Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampung Cibeo (Baduy Dalam). Mereka memiliki ciri-ciri: berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.

Gambar diambil dari sini

Versi lain menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar Prabu Pucuk Umun. Setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan.

Keturunan ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ). Mereka memiliki ciri khas sama dengan di kampung Cikeusik yaitu: wataknya keras,acuh, sulit untuk diajak bicara (hanya seperlunya), kuat terhadap hukum Adat, tidak mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju putih (blacu) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih memakai sarung tenun biru tua (di atas lutut).

Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah Sumedang, Priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi kebanyakan mereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada kesamaan ciri khas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar ), Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Mereka memiliki ciri sebagai berikut: berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat karena mereka masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.

Suku Baduy berasal dari daerah di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat berbeda.  Sebutan bagi suku Baduy terdiri dari:
  1. Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
  2. Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di Desa Kanekes yang masih terikat oleh Hukum adat di bawah pimpinan Puun (kepala adat).
  3. Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat.

Nah, inilah hasil kepo saya. Ternyata benar, bahwa beberapa orang Suku Baduy yang pernah saya lihat di kampus berasal dari Baduy Luar, jika kita lihat ciri-cirinya. Menurut saya, ada beberapa hal yang menarik tentang masyarakat Suku Baduy adalah cara hidup mereka yang benar-benar menjaga kelestarian alam. Adapun prinsip hidup masyarakat Baduy yang selaras dengan alam adalah petatah-petitih masyarakat ada Baduy yaitu:

Gunung tak diperkenankan dilebur
Lembah tak diperkenankan dirusak
Larangan tak boleh di rubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang bukan harus ditolak
Yang jangan harus dilarang
Yang benar haruslah dibenarkan

Bukti bahwa masyarakat Baduy hidup berdampingan dengan alam secara harmonis yaitu masyarakat Baduy sangat menjaga air agar selalu jernih dan bersih sehingga bisa dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Masyarakat Baduy yang tidak memiliki kamar mandi maupun WC dirumah panggungnya, memiliki aturan untuk tidak membuang sampah, menggunakan sabun, deterjen dan bahan-bahan kimia lain yang dapat mengotori sungai. Selain itu, pembagian area-area dalam pemanfaatan sungai juga merupakan sebuah konsep dalam memperhatikan daya pulih air. Setiap kampung telah memiliki area-area khusus dalam pemanfaatan sungai. Area sungai untuk mandi, mencuci, buang air dan konsumsi memiliki areanya masing-masing sehingga masyarakat memperoleh air yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan.

Gambar diambil dari sini

Bukti lain bahwa masyarakat Baduy hidup berdampingan dengan alam juga terlihat dari cara membangun rumah. Bagian paling bawah dari rumah adalah batu sebagai penopang tiang-tiang utama rumah yang terbuat dari kayu. Tetapi, tidak seperti rumah pada umumnya, masyarakat Baduy tidak menggali tanah untuk pondasi. Batu hanya diletakan di atas tanah. Jika kontur tanah tidak rata, maka bukan tanah yang menyesuaikan sehingga diratakan, tetapi batu dan tiang kayu yang menyesuaikan. Jadi, panjang pendeknya batu mengikuti kontur tanah. Bahan bangunan rumah masyarakat Baduy merupakan bahan yang bisa dan mudah diurai oleh tanah. Bahan tersebut diantaranya dinding bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa dan rangka rumah dari kayu alam yaitu kayu jati, kayu pohon kelapa dan kayu albasiah.

Gambar diambil dari sini

Masyarakat Baduy menyimpan hasil panen padi huma di sebuah leuit, lumbung padi. Leuit dibangun di pinggiran tiap kampung. Setiap keluarga memiliki leuit. Leuit adalah wujud pemahaman masyarakat Baduy tentang ketahanan pangan. Kondisi adanya leuit membuat masyarakat Baduy tidak kekurangan bahan pangan. Selain itu, apabila masyarakat Baduy akan menggunakan kayu maka kayu yang akan dipakai adalah kayu kayu yang telah kering dan tua. kayu bakar tersebut diperoleh dari pohon yang sudah dimakan rayap atau batang pohon dan ranting yang jatuh terserak. Masyarakat Baduy tidak menebang pohon untuk kayu bakar. Kearifan lokal ini menjadikan Baduy dan hutan di sekitarnya hidup harmonis selama ratusan tahun.

Jadi, mari kita teladani cara hidup menyatu dengan alam yang dilakukan masyarakat Suku Baduy. Mungkin akan terasa sulit bagi kita yang sudah terbiasa dengan bahan kimia, teknologi, dan hal-hal lain yang jika digunakan berlebihan akan merusak alam. Namun, setidaknya kita bisa menggunakan fasilitas yang ada tersebut secara bijak dan tidak berlebihan.



Sumber:


Rabu, 19 Maret 2014

Danau Toba, Si Cantik yang Terlewatkan

Gambar diambil dari sini

Danau Toba...

Ketika orang-orang punya impian jalan-jalan ke Eropa atau tempat-tempat indah lain di luar negeri sana, saya ingin ke Danau Toba.

Mungkin semua bertanya, kenapa harus ke Danau Toba? 

Apanya sih yang menarik di Danau Toba?

Bukankah saya sudah pernah tinggal dekat dengan Danau Toba?

Bersuamikan lelaki dari suku Batak dan pernah tinggal di Sumatera Utara hampir dua tahun lamanya, seharusnya saya punya banyak waktu untuk sekedar jalan-jalan bahkan mengekslorasi keindahan alam Danau Toba. Bagaimana tidak, pesona alam yang indah di Danau Vulkanik terbesar di dunia sungguh sayang jika dilewatkan begitu saja. Selain keindahan alam, kawasan Danau Toba juga kaya akan situs peninggalan sejarah. Di Pulau Samosir, pulau cantik di tengah Danau Toba, terdapat situs bersejarah diantaranya batu sidang di Ambarita, makam kuno orang Batak di Tomok dan situs perkampungan tua di Simanindo.  

Kakak dan Bere di  Tomok

Sayangnya saya melewatkan kesempatan yang saya punya saat itu. Saya terlalu sibuk, atau sok sibuk lebih tepatnya. Atau malas, mungkin ini yang paling tepat. Dengan alasan akses jalan raya dari Kota Padangsidimpuan, tempat tinggal saya di Sumatera, menuju Danau Toba rusak parah, saya urungkan niat jalan-jalan ke sana bersama keluarga.

Menurut cerita suami saya, Danau Toba dulu primadona Sumatera Utara, baik bagi wisatawan asing maupun domestik. Tetapi semenjak tahun 1990-an, Danau Toba mulai sepi, tidak banyak wisatawan yang datang. Krisis moneter yang terjadi dan diikuti dengan gangguan keamanan seperti kerusuhan di Jakarta dan Medan membuat wisatawan asing enggan datang lagi ke Danau Toba. Hal ini juga diperparah dengan bermigrasinya orang-orang yang tinggal di sekitar Danau Toba, yang dulunya menghidupkan wisata budaya di sekitaran Danau Toba.

Jika meminjam istilah “Babe Cabiita”,, AAHH SUDAAHLAAH...

Suatu saat, saya tetap akan ke Danau Toba dan Pulau Samosir Nauli..


Meskipun saat ini saya sudah tidak tinggal di Sumatera Utara lagi, Sumatera Utara khususnya Kota Padangsidimpuan tetap menjadi  kampung halaman ke dua saya. Semoga Alloh memberi kesempatan untuk saya, suami, dan anak-anak yang saat ini tinggal di Pulau Jawa untuk bersilaturahim dengan keluarga di sana. Dan juga tak lupa jalan-jalan bersama keluarga ke Danau Toba. 



Tulisan Ini diikutsertakan pada "MyDreamyVacation" mak Indah Nuria Savitri



Rabu, 05 Februari 2014

"Berani Bicara" Baik dan Santun: Sebuah Proses

Konsisten menulis itu hal yang sulit bagi saya. Ketika kecil, saya suka mengoleksi buku harian lucu, tetapi tak sedikitpun ada tulisan saya di dalamnya. Mungkin hanya ada catatan biodata teman-teman sekelas. Selanjutnya Saya tumbuh besar menjadi seorang remaja yang tidak “Berani Bicara”. Malu mengungkapkan pendapat di depan umum. Perasaan khawatir berbuat/mengajukan pertanyaan bodoh yang pada akhirnya berlanjut muncul perasaan-perasaan tidak pede berbicara di depan umum. 

Saya bersyukur, karena saya masuk program studi yang mengharuskan/memaksa saya untuk “Berani Bicara”. Meskipun pada awalnya saya hanya mendapat nilai asal lulus di mata kuliah yang banyak diskusi dan presentasi. Saya tidak menyerah, hingga pada saat ini saya sudah mulai “Berani Bicara” di depan umum. Alhamdulillah, Alloh memberi kemudahan. Saya bisa melawan rasa malu untuk tampil. 


Proses "Berani Bicara"
Namun, pernahkah anda melihat tayangan di televisi yang kurang mendidik seperti menunjukkan kehidupan glamour remaja di mall, penggunaan bahasa alay, bahkan debat politik yang mirip orang berkelahi. Saya melihat ini akan berdampak buruk terhadap kemampuan berbahasa pada generasi muda. Mereka akan sulit berproses menjadi manusia yang "Berani Bicara" dengan baik lagi santun nantinya. Hal ini menjadi tugas kita bersama. Kita bisa mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga dan lingkungan sekitar kita. Tanamkan bahwa orang Indonesia "Berani Bicara" tetapi tetap santun adanya.



# 213 kata

Rabu, 29 Januari 2014

Resensi Buku "Kastana Taklukkan Jakarta"

Cover Buku "Kastana Taklukkan Jakarta"

Penulis: Soleh Solihun
ISBN: 978-602-8740-28-9
Penerbit: literati
Ketebalan: 290 halaman
Ukuran: 13 x 19 cm
Harga Buku: Rp 49.000

Blurb
Selamat Datang Dunia Nyata!
Sebagai seorang perantau di ibukota, Kastana mengawali kariernya sebagai reporter_sebuah kasta terendah_ di sebuah majalah musik. Jakarta Kota Metropolitan, memang begitulah adanya. Kastana harus berjuang untuk dapat hidup ‘layak’ di kota yang kehidupannya serba-cepat dan serba-penuh-kejutan ini.
Seluk-beluk pekerjaan di dunia jurnalistik, khususnya jurnalistik dunia hiburan, digambarkan dengan ringan dan segar oleh Soleh Solihun. Kehidupan di luar pekerjaan tak luput diceritakan, mulai dari kelakuan copet di atas Metro Mini hingga kisah kasih dengan sang pujaan hati.


*****

Setelah memilih dengan seksama barisan buku-buku di rak yang sebagian besar belum saya baca, akhirnya pilihan saya jatuh pada buku yang berjudul “Kastana Taklukkan Jakarta”. Buku ini adalah buku karangan Soleh Solihun. Buku ke dua yang terbit setelah pada tahun 2012 buku Soleh Solihun yang berjudul “Celoteh Soleh” beredar di pasaran.

Soleh Solihun mengemas sebuah memoar menjadi fiksi yang menarik. Bagaimana tidak? Kisah hidup penulis digambarkan secara indah dalam tokoh Kastana. Buku ini bercerita tentang kisah perjalanan hidup seorang Kastana yang pada usia SD bercita-cita menjadi ABRI dan Ustadz. Warna warni kehidupan di bangku kuliah, serta perjalanan karier Kastana sebagai seorang jurnalis hingga penyiar radio, komika, dan penulis pada akhir cerita tergambar dengan sempurna dalam buku ini. Kastana berpandangan bahwa kehidupan adalah perjalanan untuk menjawab pertanyaan. Ketika kuliah, pertanyaan yang diajukan adalah kapan lulus? Setelah lulus, kapan kerja? Setelah kerja, kapan kawin atau punya rumah? setelah kawin, kapan punya anak? Begitu seterusnya.

Buku ini terdiri dari 5 bagian, yaitu Pertama: Prolog, Kedua: Kerja! Kerja! Ayo Kita Kerja!, Ketiga: Dari Anak Muda ke Pria Dewasa, Keempat: Mimpi Yang Terwujud, dan Kelima: Epilog. Pada bagian Prolog, Kastana menceritakan sedikit tentang cita-cita masa kecilnya, dan dilanjutkan dengan kisah kehidupannya selama menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran dengan peminatan jurnalistik. Selanjutnya, berturut-turut yaitu bagian Kerja! Kerja! Ayo Kita Kerja!, Dari Anak Muda ke Pria Dewasa, Mimpi Yang Terwujud menceritakan banyak lika-liku kehidupan saat Kastana hijrah dari Bandung ke Jakarta dan mulai memasuki dunia kerja. Dari tiga bagian ini, kita bisa mengetahui bagaimana perjalanan karir seorang Kastana, dimana Kastana harus berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Kemudian pada bagian Epilog, Kastana bercerita bagaimana kehidupannya saat ini, terutama berbagai pekerjaan yang dilakoninya sekarang.


Kisah yang menarik bukan? Inilah Kisah “KastanaTaklukkan Jakarta”. Bagaimana kisah anda? 

Sabtu, 25 Januari 2014

Sabtu Merindu: Liburan di Hari Sabtu


Saya adalah seorang ibu, istri, dan juga salah satu pengajar di sebuah Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Yayasan mengelola sekolah dan asrama (pesantren) dengan jenjang pendidikan SMP hingga Perguruan Tinggi. Nyaris kegiatan selalu ada dari hari Senin sampai Minggu. 

*Ki: Tempat Kerja* *Ka: Suami & Anak*

Sabtu dan Minggu adalah hari libur bagi sebagian orang. Namun tidak bagi Saya. Setiap hari Sabtu, justru Saya bisa dikatakan lembur. Karena Saya harus sampai di kantor pukul 06.00 pagi dan pulang nanti pukul 21.00 malam. Tidak berhenti sampai disitu. Minggu pagi yang bagi sebagian orang adalah saat berkumpul dengan keluarga, tidak bagi Saya. Kembali Saya harus datang ke kantor paling lambat pukul 07.00 pagi.

Jadi, jika bagi sebagian orang Sabtu dan Minggu adalah hari jalan-jalan bersama keluar, Saya tidak bisa melakukannya di dua hari itu. Karena itu Saya mencoba mengikuti tantangan pak de Cholik untuk menulis dengan tajuk Sabtu Merindu. Kenapa Saya tertantang, karena saya merasa rindu Saya terhadap anak, suami, dan keluarga memuncak di hari Sabtu.


Terkadang muncul perasaan capek, malas, dan godaan setan lainnya yang mendatangi Saya. Karena rindu Liburan di Hari Sabtu sungguh saya rindukan. Namun, meskipun Saya harus memupuk rindu di hari Sabtu, saya tidak akan banyak berkeluh kesah. Hehe, padahal dari tadi juga sepertinya isinya keluh kesah saja. Maafkan.. Karena di hari Sabtu dan Minggu saya bisa melakukan kegiatan yang sangat saya sukai, yaitu mengajar. Semoga sedikit pengorbanan yang Saya lakukan ini bisa membantu mencerdaskan masyarakat Indonesia.


Ide "Catatan Rumah Ramah Rubella"

Rumah Ramah Rubella..

Semenjak bergabung dengan KEB, saya mulai lebih sering blogwalking. Ketika blogwalking di blog emak-emak member KEB tersebut, bertemulah saya dengan rumah emak hebat, Graciemelia. Membaca blognya, mendorong saya untuk terus-terus mengikuti halaman demi halaman yang tertulis di sana. Sampailah saya kepada artikel yang berjudul “Rumah Ramah Rubella”. Saya bahkan anda semua mungkin penasaran ketika mendengar R3. Apa sih R3 itu?

Rumah Ramah Rubella

Yuk, simak info yang saya dapat dari group facebook Rumah Ramah Rubella berikut ini:

Rumah Ramah Rubella adalah sebuah komunitas terbuka yang diperuntukkan khususnya bagi para orang tua dengan anak yang terkena Congenital Rubella Syndrome. Orang tua yang sekedar ingin tahu apa itu Congenital Rubella Syndrome dan dampaknya atau ingin tau tentang fisioterapi, pengasuhan, dari anak yang spesial juga boleh bergabung. Di sini kita semua berbagi, belajar, dan berkeluh kesah bersama.

'Rumah' adalah suatu tempat di mana kita merasa diterima oleh keluarga kita. 'Ramah' adalah attitude yang diharapkan antar sesama anggota keluarga. 'Rubella' mengacu pada Congenital Rubella Syndrome yang saat ini menjadi concern kita.

Jadi, harapannya adalah di Rumah Ramah Rubella ini kita tidak merasa sendiri melainkan memiliki sebuah keluarga yang sama-sama berjuang untuk melawan Congenital Rubella Syndrome dan membantu menyadarkan masyarakat tentang bahaya virus Rubella dan pentingnya tes TORCH serta vaksin MMR untuk mencegahnya.

Nah, sudah ada pencerahan kan apa itu R3? 

Mak Graciemelia membentuk R3 setelah aktif menulis tentang Aubrey putri pertamanya yang terkena Congenital Rubella Syndrome. Dari situ ada cukup banyak orangtua yang menghubungi mak Gracie untuk sekedar bertukar cerita tentang anaknya yang juga terkena Congenital Rubella Syndrome atau menanyakan langkah-langkah apa yang mereka harus ambil untuk menyembuhkan putra-putri mereka dan di mana mereka bisa menemukan dokter syaraf atau terapis untuk anak-anak mereka. Ada juga sekedar mengungkapkan unek-unek di mana mereka merasa sendiri dan merasa jatuh karena dicemooh lingkungan sekitarnya.

Menurut saya, terbentuknya R3 sungguh langkah mulia mak Gracie yang harapan ke depannya bisa meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Indonesia tentang apa itu TORCH, bahaya dan cara pencegahannya. Saya dan mungkin banyak warga Indonesia yang lain sangat berharap banyak masyarakat luas bisa mengenal R3 agar lebih banyak lagi masyarakat yang tahu, sadar, dan peduli. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

Saran dan harapan saya untuk R3 adalah, Semoga suatu saat R3 bisa membuat buku “catatan rumah ramah rubella”. Kenapa saya ingin sekali ada “catatan rumah ramah rubella”? Karena melihat kesuksesan buku yang bertajuk catatan. Hehe. Misalnya Catatan Dahlan Iskan, catatan Si Boy, Catatan Ayah ASI, dan banyak lagi Catatan-catatan lainnya.

Buku yang bertema “catatan rumah ramah rubella” mungkin bisa sebagai tindak lanjut dari kesuksesan “Kalender Rumah Ramah Rubella”. Buku “catatan rumah ramah rubella” mungkin bisa berisi tentang: Mengenal TORCH, Bahaya dan Pencegahan, Sharing Orang Tua dengan anak yang terkena TORCH Kongenital, Sharing Ibu Hamil yang Survive dari TORCH, Sharing Pakar (dokter maupun terapis). Harapannya buku tersebut bisa digunakan sebagai media kampanye agar R3 semakin dikenal dan masyarakat lebih “melek TORCH”.

Semoga buku “catatan rumah ramah rubella” segera terbit dan Allah memudahkan tercapainya langkah mulia Mak Gracie dan teman-teman di R3. Aamiin. Semangat!!!



Info "2nd Giveaway by Dwiex'z Someo"

Sabtu pagi yang mendung.. Semoga tidak mengurangi semangat kita untuk beraktivitas ya.. Saya mau coba share info GiveAway mak dwi puspita.. Semoga bermanfaat..

Aku ingin menepati janji,,,
Janji mau ngadain GiveAway lagi,,,
Ini adalah kali kedua aku mengadakan GiveAway,,,
Semoga kalian para pembaca pada tertarik untuk ikutan,,,

Ada sedikit hadiah untuk kalian yang memenuhi syarat-syaratnya,,,
Hadiahnya apa?
Ada 2 lembar kain Batik Madura untuk 2 pemenang terpilih,,,
Dan pulsa 20 K untuk 2 pemenang terpilih berikutnya,,,
Total ada 4 pemenang,,,namun jika pesertanya tambah banyak,,,kemungkinan hadiah akan aku tambah,,,



Ini adalah salah satu contoh kain Batik Madura dari Pamekasan, untuk hadiahnya akan menjadi Surprize ya,,,^_^

Syaratnya simple,,,
1. Alamat pengiriman hadiah harus di Indonesia
2. Cukup jadi temanku (Blog, FB, Twitter)
3. Share GA ini sebanyak-banyaknya di sosmed milik kalian (Twitter/FB),,,jangan lupa cc ke aku ya,,,dan hastagnya #2ndgiveawaybydwiex'zsomeo
4. Ajak temanmu untuk mengikuti GA ini
5. Berikan komentar kamu, sebagai tanda peserta kalau kamu ikutan giveawayku
6. Pasang banner GiveAway ini di blog kamu
GiveAway ini berlangsung mulai hari ini sampai dengan tanggal 28 Februari 2014. dan Inshaa Allah akan diumumkan pemenangnya tanggal 10 Maret 2014.

Semoga kalian beruntung ya,,, ^_^

Keterangan lebih lanjut silahkan kunjungi ini

Keunikan Masjid Syech Sulaiman Lubis Alkholidy

Assalamualaikum wr. wb. Senin, 13 juni 2016 saya dan rombongan melakukan perjalanan dari kota padangsidimpuan menuju kabupaten mandaili...