Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bayi. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2014

Pertolongan Pertama Pada Diare

Diare seringkali dialami oleh bayi, anak-anak, maupun orang dewasa. Diare sendiri merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan buang air besar encer dan cair serta terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari. Penderita diare yang terus menerus tanpa pertolongan memadai rentan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) dan bahkan dikhawatirkan akan kekurangan nutrisi.

Kita terkadang akan panik atau bingung harus berbuat apa jika mendapati bayi atau anak-anak mengalami diare. Namun, panik bukan solusi yang tepat ketika menghadapi bayi atau anak yang diare. Ketika mengetahui anak mengalami diare, kita harus segera melakukan tindakan pertolongan pertama sebelum anak dibawa ke bidan atau ke dokter.


Pertolongan yang bisa dilakukan antara lain:
ü  Untuk bayi yang masih minum ASI, berikan ASI lebih sering.
ü  Berikan elektrolit kepada bayi agar mendapatkan elektrolit pengganti.
Jika tidak tersedia cairan elektrolit, “elektrolit rumahan” bisa dibuat dari air masak, gula, dan garam.
ü  Tempe mengandung zat alami penghenti diare. Untuk bayi, siapkan tempe dalam bentuk tepung agar mudah mencampurnya dengan makanan bayi.

Nah, ternyata pertolongan pertama diare bukan panik ya. Hehe. Selalu sedia cairan elektrolit dan tepung tempe di rumah untuk pertolongan pertama diare. Kalau begitu, simak resep membuat “elektrolit rumahan” dan tepung tempe berikut ini.

“Elektrolit Rumahan” Air – Gula – Garam
Untuk 100 mL

Bahan:
·         100 mL air masak
·         2 sdt gula pasir
·         3 sdt garam

Cara membuat:
Campurkan bahan, aduk hingga gula pasir dan garam larut.

Tepung Tempe
Untuk 100 g tepung tempe

Bahan:
250 g tempe (matang sempurna, tidak busuk)

Cara membuat:
1.       Panaskan oven pada sushu 1400 C. Siapkan loyang kue kering.
2.       Potong tempe setipis mungkin. Atur tempe berjajar di atas loyang. Panggang dalam oven hingga kering. Jika perlu, balik tempe, lalu masukkan lagi ke dalam loyang. Sisihkan tempe hingga dingin.

3.       Haluskan tempe dengan blender. Simpan dalam wadah bersih bertutup rapat.

Sumber: 
Wied Harry Apriadji "Makanan Bayi Sehat Alami"

Selasa, 17 Desember 2013

Belajar Menabung Sejak Dini

Ketika usia azzam memasuki 11 bulan, eyang uti membelikan "celengan". Celengan ini terbuat dari plastik jadi ringan dan tidak mudah pecah. Eyang uti memilih celengan plastik agar azzam tidak keberatan waktu mengangkatnya.Celengan ini selain berfungsi untuk menyimpan uang juga  digunakan untuk mainan azzam. Eyang memilih celengan berbentuk ayam  dan kucing. 
Azzam sangat senang sekali memiliki celengan baru. Setiap kali eyang  kakung, eyang uti, mama atau ayahnya memberi uang dia langsung mencari  celengan plastiknya. Terkadang jika eyang memberi 5 buah uang koin Rp  500 azzam marah ketika uang tersebut sudah masuk semua ke dalam  celengan. Mungkin dia masih ingin memasukkan koin-koin yang lain ke  dalam celengan kesayangannya ini. 
Diantara dua celengan tersebut, azzam lebih suka celengan kucing daripada celengan ayam. Azzam lebih suka celengan kucing mungkin  karena azzam memang lebih suka kucing ketimbang ayam. Mungkin juga karena posisi lubang untuk memasukkan uang di celengan kucing lebih strategis dibandingkan celengan ayam.
Saya senang dan mendukung dengan hobby baru azzam ini karena selain untuk melatih motorik halusnya juga untuk mengenalkan azzam tentang uang. Kami mengenalkan azzam tentang uang sejak dini bukan supaya anak konsumtif. Tapi supaya azzam belajar apresiasi tentang uang. 

"Ma, mana koinnya.. Azzam mau ngasih makan kucing"

Minggu, 05 Mei 2013

Stimulasi Merangkak


Merangkak dilakukan setelah bayi mampu duduk (tanpa bantuan). Biasanya di rentang usia 6-10 bulan. Merangkak dilakukan dengan menggunakan kedua tangan dan lutut. Gerakannya meninyilang; ketika tangan kanan maju, kaki kiri maju juga, begitupun sebaliknya. Ada yang mengatakan merangkak merupakan kemampuan alamiah yang umumnya dikuasai bayi dengan sendirinya. meskipun begitu, orang tua tetap perlu memberikan rangsangan agar proses merangkak dapat dilakukan dengan baik.  



Terkait stimulasi, ada beberapa hal yang penting dilakukan agar si kecil dapat memiliki kemampuan merangkak sesuai tahap perkembangannya.
·         Beri stimulasi tengkurap
Sering-seringlah memposisikan bayi tengkurap. Pastikan ia berada di alas yang nyaman, semisal matras atau karpet. Dengan posisi tengkurap bayi belajar mengangkat kepala dan badan, bahkan bergerak dengan perutnya dan kedua tangan-kakinya untuk mencoba “melangkah” maju.
·         Letakkan mainan/benda kesayangan di depan bayi
Letakkan mainan favoritnya kira-kira 4-5 jengkal tangan dewasa di depan bayi. Minta ia menggapai dan meraihnya. Lihatlah, dia akan berusaha mengejar dengan cara menggeser posisi badan menggunakan perutnya. Rangsang ia untuk merangkak, bukan merayap ataupun mengesot. Dengan cara pelan-pelan menekuk kaki belakangnya sedikit saja, tapi hati-hati, jangan sampai bayi terjungkal. Bila ia berhasil meraih dan memegang mainan itu, beri pujian dengan mengelus kepala, tepuk tangan atau reaksi gembira lainnya.
·         Berikan contoh merangkak
Orang tua dapat memeragakan cara merangkak. Lakukan bersama-sama si kecil dalam suasana bermain yang menyenangkan.
·         Sediakan waktu dan dampingi
Setidaknya beberapa menit, misal 5 menit, setiap hari untuk belajar merangkak. Secara bertahap, waktu bisa ditingkatkan seiring dengan peningkatan keterampilan dan kemampuannya. Selama mendampingi, hindari meninggalkannya sendirian walau ada urusan sejenak. Berusahalah tetap di dekatnya sehingga ia tetap fokus untuk belajar merangkak. Kalau kita beranjak menuju tempat lain dan meninggalkannya, dikhawatirkan fokusnya beralih dan ia pun akan mencari-cari kita.
·         Tidak memaksa, apalagi sampai memasang target
Biarkan si kecil menikmati proses ini dengan aman, nyaman dan menyenangkan. Seharusnya si kecil mampu belajar secara alamiah. Sama seperti perkembangan lainnya, waktu yang dibutuhkan untuk belajar merangkak berbeda-beda setiap bayi. Oleh sebab itu, hindari memasang target.
·         Jangan terlalu dini
Jangan memaksa bayi belajar merangkak sebelum ia bisa duduk sendiri, apalagi bila tangan dan kakinya belum bisa menopang tubuh. Jadi, sesuaikan saja dengan kemampuan dan usianya.
·         Sediakan lingkungan yang aman
Gunakan alas yang nyaman baik itu karpet maupun matras lantai. Jauhkan benda-benda yang kemungkinan menimbulkan bahaya, seperti: colokan listrik, atau benda-benda kecil yang mungkin diambil dan dimasukkan ke dalam mulut. Paling penting, pastikan bayi dalam kondisi nyaman ketika hendak diajak “bermain” merangkak.

Sumber: Tabloid Nakita Edisi 18-24 Februari 2013

Keunikan Masjid Syech Sulaiman Lubis Alkholidy

Assalamualaikum wr. wb. Senin, 13 juni 2016 saya dan rombongan melakukan perjalanan dari kota padangsidimpuan menuju kabupaten mandaili...