Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Tentang Kuliah DPR [Di-bawah Pohon Rindang]

Suatu siang, saya ada dua jadwal ngajar untuk matakuliah entrepreneurship. Karena pertemuan kali ini diagendakan untuk diskusi kelompok, saya ajak teman-teman mencari suasana belajar yang baru. Cuaca siang itu cukup terik. Jadi kami memutuskan untuk belajar di lapangan upacara tepatnya di bawah pohon rindang. 

Saya sangat terkesan dengan mahasiswa di satu kelas yang saya ajar. Mereka aktif dalam diskusi. Mereka tidak malu dalam bertanya ataupun mengungkapkan pendapatnya. Bahkan untuk tugas yang seharusnya dikumpulkan sebelum ujian akhir semester, mereka hanya perlu waktu satu minggu untuk menyelesaikan tugas itu. Luar biasa semangat teman-teman mahasiswa ini. Saya bangga bisa sharing informasi bersama kalian. Semoga di matakuliah apapun, semangat dan kekompakan kalian tetap terjaga.

Di Belakang Saya Itulah Pohon Rindangnya

Setelah perkuliaahan selesai, saya membuka diskusi dengan teman-teman mahasiswa. Saya tanyakan kepada mereka mengenai tanggapan tentang perkuliahaan di lapangan. Ada sisi positih dan negatif dari metode belajar kali ini. Berikut ini rangkumannya:

+ Suasananya menyenangkan karena hembusan angin sepoi-sepoi
+ Tidak ngantuk, karena supply oksigen ke otak optimal
+ Suasana belajar lebih relax, karena melihat hijaunya dedaunan
+ Lebih mudah menangkap pesan-pesan yang disampaikan oleh dosen.

- Dilihat oleh oranag lewat, jadi konsentrasi sedikit menurun
- Banyak semut
- Karena angin terlalu kencang, saya masuk angin

Sisi negatif yang terakhir itu saya alami sendiri. Ketika adzan ashar sudah berkumandang, saya bersiap untuk pergi ke masjid, ambil wudhu dan sholat berjamaah. Karena terlalu lama berangin-angin, saya pun sempat tiga kali batal. #disitukadangsayamerasasedih. Dan akhirnya saya tidak sholat berjamaah karena sholat berjamaah sudah selesai dilaksanakan. 

Masalah angin itu tidak berhenti pada drama menjelang sholat ashar saja. Ketika saya kembali ke teman-teman mahasiswa dan menjelaskan sedikit tentang materi, tamu tak diundang datang lagi. Iya, saya K*N*UT bunyi tetapi tidak bau dan apesnya ketika mahasiswa sedang konsen mendengarkan penjelasan saya. Kalau ada mahasiswa yang baca blog ini dan tadi ikut kelas saya pasti sudah ngakak guling-guling. But, show must go on.. Saya teruskan aja ngomong, bercerita dan membahas hasil diskusi yang sudah dilakukan. :) 

Rabu, 18 Maret 2015

Catatan Kehamilan dan Kelahiran Anak Kedua

Januari 2015 saya tergabung dalam grup one day one juz (odoj). Keputusan saya ikut grup ini adalah untuk membiasakan diri berinteraksi dengan al qur’an. Susah sekali awalnya untuk bisa kholas 1 juz sehari. Tetapi dengan semangat teman-teman odoj akhirnya saya bisa melaluinya dengan baik. Di hari ke 30 saya mengikuti grup ini, yang artinya hari itu khatam (30 juz) pertama saya di odoj, saya mengetahui kalau saya sedang hamil anak kedua. Sungguh anugerah yang luar biasa. Alhamdulillah.

Saya, suami dan keluarga sangat senang mengetahui kehamilan saya. Tetapi sedikit galau juga karena saat itu anak pertama kami Azzam masih berusia 14 bulan dan masih menyusu. Mungkin karena faktor kegalauan tersebut, Azzam mengalami perubahan perilaku. Yang tadinya mau makan menjadi susah makan dan hanya mau nenen saja. Saya sih tidak merasa keberatan kalau harus menyusui Azzam meskipun sedang hamil. Tetapi kali itu kegalauan muncul dari eyang dan ompung yang meminta Azzam berhenti menyusu karena berbagai mitos alasan. Setelah diskusi panjang, akhirnya saya pun sepakat untuk menyapih Azzam. Sedih rasanya harus berhenti berpelukan sebelum tidur, karena untuk memudahkan proses menyapih, Azzam tidur di kamar eyang. Tetapi saya juga tidak tega kalau harus terus menyusui Azzam, karena dengan terus menyusu, Azzam malah tidak mau makan, maunya nenen terus.

Kegalauan tidak bisa memberikan ASI sampai 2 tahun pun makin lama bisa saya lupakan karena kesibukan saya di kantor dan kehamilan kedua. Kehamilan kedua ini hampir sama dengan kehamilan pertama. Merasa mual dan gampang capek mulai dari awal sampai akhir kehamilan. Tetapi menurut penilaian teman-teman sih saya ini tipe hamil ngebo, yang jarang muntah-muntah. Hehe.

Kehamilan yang kedua ini saya lalui dengan perasaan campur aduk, galau masalah Azzam, stress masalah kerjaan, dan bahagia dengan segala hal mengenai kehamilan. Untuk mengusir perasaan galau, saya ikut kelas yoga hamil dan hypnobirthing di Bidan Sayidah. Ikut kelas yoga hamil dan hypnobirthing ini sangat membantu pada saat proses lahiran. Selain yoga di kelas yang dilakukan seminggu sekali, tetapi lebih banyak liburnya, saya beli gymball untuk latihan di rumah.

Pemeriksaan antenatal saya lakukan di tiga tempat, pertama di RS Baitul Hikmah dengan dr. Lambang, SPOG. Kedua dengan bidan Soraya yang kebetulan masih saudara dan dekat rumah. Yang ketiga tentunya dengan bidan Sayidah, konsultasi sekalian ikut kelas yoga hamil dan hypnobirthing.

Rencana pertama kami sekeluarga sepakat untuk lahiran di bidan dekat rumah saja, karena faktor jarak yang dekat dengan rumah. Ini tidak jadi karena selama kehamilan posisi bayi sering berputar-putar. Hingga memasuki 36 minggu pun masih sungsang dan lintang. Rencana kedua ini sebenarnya hanya rencana saya dan suami untuk melakukan homebirth atau waterbirth di bidan Sayidah. Rencana ini dicancel karena faktor restu keluarga. Padahal saya pengen sekali merasakan waterbirth yang konon katanya lebih nyaman. Rencana ketiga, yang akhirnya berjalan. Saya melahirkan di RS Baitul Hikmah.

Waktu usia kehamilan 32 minggu saya jatuh di depan kantor yayasan pada saat mengisi presensi sore. Karena khawatir, malamnya saya dan suami pergi ke bidan dekat rumah untuk kontrol. Betul saja, posisi bayi sungsang saat itu, dan bidan menyarankan untuk perbanyak sujud. Saya galau tetapi saya coba konsultasi dengan bisan Sayidah via bbm dan saya memperoleh jawaban yang menentramkan hati. Love you full bu Ida. Beberapa hari kemudian saya coba kontrol ke dokter di RS Baitul Hikmah. Rencananya ingin konsultasi dengan dr. Lambang, tetapi ternyata saya salah jadwal, karena ada perubahan jadwal di RS. Baitul Hikmah yang baru ini. Akhirnya daripada pulang, saya coba dengan dr SPOG perempuan, yang kurang memuaskan menurut saya. Tetapi saat itu saya coba bertahan dulu dengan dokter perempuan ini.

Jadwal kontrol berikutnya, saya datang untuk bertemu dokter perempuan ini, ternyata ibunya sudah pulang. Dan dr. Lambang yang sedang praktik saat itu. Akhirnya saya kembali periksa dan konsultasi dengan dokter lambang hingga menjelang lahiran. Seminggu sebelum lahiran sempat diledekin, karena sudah 39 minggu tapi belum lahir juga. Tetapi setelah diperiksa semuanya dalam kondisi baik, dokter hanya berkomentar, kalau si bayi nunggu tanggal cantik. Hehe. Dokter menjelaskan kalau mau lahiran di RS, nanti datang ke RS kalau sudah ada tanda-tanda keluar lendir darah dan kontraksi rutin. Tetapi jika keadaan darurat, misalkan ketuban pecah saya dianjurkan harus segera datang ke RS.

Menunggu itu menggalaukan. Karena kontraksi palsu sudah sering datang, tetapi belum ada tanda akan melahirkan. Tetapi pagi hari 40 minggu kurang sehari, tanda yang dinanti itu muncul. Keluar lendir dan darah dan kontraksi yang sudah mulai rutin. Kali ini sudah yakin kalau sebentar lagi akan lahiran. Sambil menunggu kontraksi saya lakukan pelvic rocking. Ngobrol asik bareng suami dan masih sok-sokan menyuruh suami berangkat ngajar malam dulu. Karena hari itu jadwal kontrol, saya memutuskan malam harinya untuk kontrol ke RS. Baitul Hikmah.

Ba’da maghrib berangkat dari rumah diantar bapak dan ibu, serta sudah siap membawa barang-barang dan gymball. Ba’da isya periksa ke poli kandungan, dan cerita dengan dokter kalau sudah keluar lendir darah. Akhirnya dokter memeriksa dalam, dan ternyata sudah pembukaan 1, tetapi serviks sudah tipis. Dokter memberikan pilihan, untuk pulang atau opname di RS karena perkiraan besok pagi saya akan melahirkan. Saya pilih opname saja karena khawatir buru-buru nantinya. Setelah cek in kamar dan memindahkan barang, saya sempatkan untuk sholat isya dan pelvic rocking lagi sambil ngitung durasi kontraksi.

Sekitar pukul 21.30 kontraksi makin kuat, dan saya mendadak ngantuk. Akhirnya saya putuskan untuk rebahan di bed sambil smsan sama suami. Saya minta suami langsung saja datang ke RS. Eh ternyata mampir rumah dan santai-santai dulu. Karena kontraksi makin kuat, ibu coba panggil bidan yang jaga. Bidan datang memeriksa bukaan ternyata bukaan 7. MashaAllah, kaget sekaligus senang karena prosesnya cepat. Akhirnya saya di bawa ruang bersalin.

Di ruang bersalin sudah ada dua ibu yang juga mau lahiran, yang keduanya lumayan heboh. Kalau saya seperti biasa mendadak kalem kalau mau lahiran. Pembukaan 9 ketuban pecah sendiri. Tidak lama dokter datang dan ternyata pembukaan sudah lengkap dan dengan sekali mengejan lahirlah bayi perempuan mungil nan unyu dengan tangis yang cetar membahana bak rocker.

Kamis, 2 Oktober 2014 pukul 22.15 lahirlah perempuan cantik yang bernama Akifa Jannata Siregar. Berat lahir 3200 gram dan panjang 46 cm. Cukup mungil jika dibandingkan dengan abangnya. Alhamdulillah atas izin Allah prosesnya berjalan lancar dan mudah. Tanpa infus dan insuksi. Saya merasa melahirkan kali ini cukup gentle. Belum genap sehari dokter pun sudah memperbolehkan kami pulang karena kondisi kami berdua yang sudah baik. Tiga hari kemudian kontrol dan dokter menyatakan semua baik dan saya tinggal buat aja program anak ketiga. Hahaha.


Belum genap sehari

Di hari ketujuh disembelihlah 1 kambing untuk aqiqah. Diresmikan namanya dan digunting rambutnya. Semoga Akifa Jannata Siregar tumbuh sehat dan menjadi perempuan salihah. Aamiin. 

Beberapa hal yang menjadi catatan saya di kehamilah dan persalinan kedua ini:
1. Yoga hamil dan latihan pelvic rocking bisa memperlancar persalinan
2. Hypnobirthing sangat membantu mengelola stress saat hamil
3. Makan makanan dengan gizi seimbang agar tubuh sehat dan nutrisi janin terpenuhi
4. Tilawah, membaca terjemahan ataupun mendengarkan murothal tiap hari ini juga sangat membantu mengelola stress
5. Mencari tempat pemeriksaan antenatal yang nyaman
6. Survei lokasi persalinan
7. Membuat catatan kehamilan, karena hamil itu menyenangkan (ini lupa saya lakukan) hehe



Selasa, 17 Maret 2015

Tentang Anak Susah Tidur

Saat berumur 26 bulan

Azzam yang hari ini tepat berusia 28 bulan adalah balita yang cerdas dan lincah. Kami sebagai orang tua sangat bangga kepadanya. Untuk ukuran anak seusianya, dia termasuk anak yang mudah menirukan apapun yang dia lihat. Dia suka sekali bernyanyi, meskipun terkadang dengan kata-kata yang belum begitu jelas. Dia juga sudah hafal huruf hijaiyah dari alif sampai ya’ meskipun hanya dalam lagu.

Celoteh Azzam kadang membuat kami sebagai orang tua sedikit heran. Suatu malam azzam sudah di kasur menjelang tidur. Ayahnya yang menemani dia sebelum tidur itu. Keadaan sudah sunyi, dan melihat Azzam diam saja tetapi tidak tidur, terjadilah diskusi singkat yang mengagetkan.
Ayah: abang Azzam lagi apa? Kok belum tidur?
Azzam: Azzam lagi sibuk Ayak.
Ayah: (dalam hati) hahahaha kosakata baru lagi, abang azzam sudah tahu SIBUK.

Azzam termasuk anak yang susah tidur malam. Tidur paling cepat pukul 22.00 dan itu jarang terjadi. Paling sering antara pukul 23.00 sampai 01.00. Inilah yang membuat ayah dan mamanya, terutama ayahnya, sering teler karena kebanyakan begadang menemani Azzam.

Kami khawatir dengan kebiasaan Azzam yang satu ini. Karena tidur untuk anak balita itu sangat penting untuk tumbuh kembangnya. Selain itu kami juga khawatir terhadap berat badannya yang susah gemuk. Kami curiga salah satu penyebabnya adalah karena sering kurang tidur.

Berbagai cara sudah kami lakukan agar Azzam bisa tidur lebih awal seperti balita pada umumnya. Mulai dari mamasang lampu kamar yang redup, masuk kamar lebih awal, sampai pura-pura ikut tidur di sampingnya. Dan sayangnya cara-cara tersebut belum berhasil.

Diskusi dengan mertua sudah kami lakukan, tetapi tidak banyak mendapat solusi karena mertua sendiri juga sering susah tidur. Hehe. Kemudian seperti biasa, sebagai orangtua yang kekinian, kami coba mencari artikel di internet untuk mengatasi anak susah tidur. Setelah baca ini, ini, dan ini, kami ingin mencoba tips mengatasi anak susah tidur sebagai berikut:

1.     Memastikan bahwa anak tidak lapar
Ini penting sekali dilakukan karena jika lapar anak akan terbangun tengah malam dan akan susah tidur kembali. Ini beberapa kali terjadi pada Azzam, minta makan atau minum tengah malam, kemudian seger dan ayah&mamanya teler. L

2.     Menjauhkan anak dari gadget atau mainan
Gadget atau mainan, dua hal inilah yang sering kali membuat Azzam susah tidur. Bahkan dia betah menonton animasi anak-anak kesukaannya hingga tablet habis baterai. Setelah itu tetap belum bisa tidur juga. Padahal ayah&mamanya masih banyak kerjaan dan hanya bisa dikerjakan kalau anak-anak sudah tidur. L

3.     Membuat suasana kamar yang nyaman
Kamar yang bersih, lampu kamar redup, ada aromaterapi, dan bebas nyamuk itulah yang membuat anak bisa nyaman tidur di kamar. Selama ini saya sebagai emak rempong sering sekali tidak membuat kamar nyaman karena buku-buku bertebaran dimana-mana, kertas-kertas, tugas mahasiswa masuk kamar juga, bahkan jemuran juga kadang masuk kamar. L

4.     Menciptakan ritual tidur
Ritual tidur yang ingin kami terapkan adalah pipis, cuci muka dan gosok gigi. Ganti baju tidur dan pijat ringan untuk Azzam. Untuk pijat ringan ini penting untuk mengurangi kelelahan karena Azzam aktif sekali di siang hari.

Empat hal itu yang akan kami coba terapkan ke Azzam agar dia bisa tidur lebih cepat dan istirahat dengan nyaman di malam hari. Semoga berhasil dan Azzam bisa tumbuh optimal menjadi anak yang sholih, sehat, cerdas, dan ceria. Aamiin.

Senin, 16 Maret 2015

Tentang Bau Ketek Ayah


Suatu malam yang sudah larut, saya dan anak-anak sudah nyenyak tertidur. Tiba-tiba, si kecil akifa terbangun dan mulai menangis. Saya coba susui, tetapi dia menolak. Bahkan tangisannya pun semakin keras. Saya coba gendong dan peluk, tetap menangis semakin keras lagi. Saya raba perutnya, balur dengan minyak telon, masih menangis dengan alis yang semakin merah. Saya bingung, takut juga kalau tangisan gadis kecil ini akan membangunkan ompung dan neneknya atau bahkan mengganggu istirahat tetangga.

Saya coba bawa akifa keluar kamar menuju kamar kerja ayahnya. Ternyata ayah belum tidur. Ayah coba gendong akifa yang masih menangis. Berpindahlah gadis kecil ini ke pelukan ayahnya. Dan, seketika itu juga dia diam, senyum-senyum. Alhamdulillah akifa kembali ceria. Setelah 5 menit, ayah coba letakkan akifa untuk saya susui, ternyata dia kembali menangis. Akhirnya ayah peluk akifa lagi, sambil bernyanyi, hingga kemudia akifa tertidur pulas di pelukan ayah.


Setelah akifa kembali tidur, saya berbincang sedikit dengan ayah, membahas kenapa akifa galau malam ini. Analisis saya, akifa galau karena rindu bau asem ketek ayah. Dan kali ini, nenen pun tidak bisa mengalahkan bau ketek ayahnya. Meskipun sering galau kalau ayah tidur terlalu larut bahkan pagi. Saya ambil sisi positifnya, karena ada bala bantuan yang siap membantu ketika anak-anak rewel tengah malam. 

Senin, 02 Februari 2015

Fried Chiken with Ground Koya Tofu

Sudah lama sekali kami (saya dan suami) tidak makan siang bersama. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan, tetapi lebih sering kami bergantian makan agar bisa mengkondisikan Azzam dan Akifa. Alhamulillah di siang yang cerah ini ketika anak-anak sedang tidur siang kami berkesempatan makan bersama. Sungguh nikmatnya menyantap sambal ikan tongkol bersama mentimun sebagai lalapan.

Saya pun menyalakan tv dan memilih NHK untuk ditonton sambil menikmati makan siang. Acara yang kami tonton pun sangat mendukung, yaitu “Dining with the chef”. Acara yang dipandu oleh Tatsuo Saito dan Yu Hayami sering saya tonton 2 tahun yang lalu ketika belum pindah ke kendal. Kali ini chef membuat 2 masakan yang terlihat sangat sehat. Masakan yang sepertinya sangat mudah dibuat adalah “Fried Chiken with Ground Koya Tofu”.

Untuk membuat Fried Chicken ini memerlukan bahan-bahan sebagai berikut:
Dada ayam tanpa lemak
Telur
Tepung terigu
2 slices Koya tofu
Seledri air
½ lemon untuk garnish
Minyak sayur untuk menggoreng dengan teknik deep-frying

Tahap-tahap membuatnya terlihat sangat mudah. 
Pertama, Potong dada ayam menjadi potongan yang mudah dimakan. 


Kedua, Parut dengan halus Koya tofu. 


Ketiga, Gulingkan potongan dada ayam di atas tepung, kemudian gulingkan di atas telur yang sudah dikocok, dan gulingkan di atas Koya tofu yang sudah diparut. 


Keempat, Goreng dengan metode deep-fry sekitar 1 menit dengan minyak yang bersuhu 170 derajat celcius. 


Kelima, taburi fried chicken dengan sedikit garam. 


Terakhir sajikan di piring dengan garnish irisan lemon dan seledri air.



Terlihat mudah dimasak dan enak rasanya. Kendalanya adalah di Indonesia, terutama kota kecil Padangsidimpuan ini mana ada Koya tofu. Hmm kira-kira bisa diganti dengan apa ya??  

nb: resep dan semua foto diambil dari sini.

Minggu, 01 Februari 2015

Babak Baru Drama Kehidupan

Drama kehidupan keluarga kami mencapai babak baru dengan banyaknya perubahan yang sudah kami alami. Saya dan suami pindah kerja yang mengharuskan kami pindah domisili dari Kendal kembali ke Padangsidimpuan. Karena itu anak-anak pun ikut kami boyong ke kota kelahiran suami.

Cerita dimulai ketika bulan September ada pengumuman pembukaan CPNS di IAIN Padangsidimpuan. Mengetahui informasi tersebut, saya yang merasa sudah nyaman dengan pekerjaan kala itu bertekad untuk tidak mendaftar. Tetapi setelah melalui perdebatan panjang semalaman dibarengi dengan drama nangis bak ngiris bawang, saya dan suami sepakat mendaftar. Menjadi dosen adalah minat saya dan suami. Sedangkan memiliki anak dosen pns adalah keinginan mertua yang paling utama. Itu lah yang menjadi salah satu motif kenapa akhirnya saya dan suami ingin mendaftar tahun ini. Di sisi lain untuk jurusan kami, ada 2 formasi berbeda yang dibutuhkan. Artinya saya dan suami tidak harus bersaing untuk mendapatkan posisi yang sama.

Setelah melalui drama yang panjang untuk meminta restu dari orang tua, akhirnya kami memperoleh izin untuk mendaftar. Konsekuensi dari pilihan ini tentu saja bapak dan ibu akan kesepian karena kami harus pindah dari Kendal. Ini sedikit lucu sebenarnya karena sepertinya PeDe sekali akan diterima, sedangkan mendaftar saja belum. Meskipun berat, alhamdulillah bapak ibu memberikan dukungan penuh kepada kami. Terutama berkat doa bapak ibu dan mertua juga Allah banyak memberikan kemudahan dalam prosesnya.

Masa cuti sebelum melahirkan saya gunakan untuk mendaftar online, mengirim berkas, hingga menyiapkan dokumen-dokumen penting lainnya. Masa galau menunggu jadwal tes pun tak sengaja dilalui dengan gembira karena kami kedatangan anggota keluarga baru. Perempuan mungil, sehat, dan in syaa Allah salehah yang kami beri nama Akifa Jannata Siregar. Tak lama kemudian surat panggilan tes cat pun datang. Kami harus melalui tes pada tanggal 14 November 2014 di Padangsidimpuan. Akhirnya setelah berunding dengan suami dan mengumpulkan tabungan untuk ongkos ke Padangsidimpuan, kami pun mendapat tiket tanggal 10 November 2014 dengan rute SRG-JKT-PLZ. Kali ini kami memilih rute tersebut dengan pertimbangan kami harus membawa Akifa yang saat hari keberangkatan masih berusia 38 hari.

SRG

PLZ (Sibolga)

Perjalanan panjang dari Kendal-Semarang-Jakarta-Sibolga-Padangsidimpuan saya, suami dan Akifa pun alhamdulillah berjalan lancar. Hanya sedikit kendala ada di suami yang punya masalah telinga berdenging ketika landing. Kali ini sedikit parah karena suami sampai keringat dingin. Sesampai di Padangsidimpuan kami masih mempunyai waktu untuk menyiapkan mental dan fisik untuk menghadapi CAT.

Hari yang ditunggu tiba, dengan sebelumnya menyiapkan ASIP untuk Akifa, saya berangkat ke lokasi tes diiringi dengan doa suami dan orang-orang yang menyayangi saya. Saya berangkat sendiri karena suami mendapat giliran sesi 2 sedangkan saya sesi 1. Alhamdulillah setelah tes berakhir saya dan suami mendapat nilai yang cukup memuaskan. Kami menduduki peringkat teratas di formasi masing-masing. Sedangkan suami yang hingga akhir sesi pun menduduki peringkat teratas dari semua formasi. Saya sangat bangga dengannya J

Masa-masa menunggu tahap tes selanjutnya pun dilalui dengan drama di mana kami harus resign dari tempat kerja yang lama akibat masa cuti sudah habis. Berat sekali bagi saya berpisah dengan teman-teman seperjuangan dan mahasiswa yang, sunggu sudah seperti anak, adik, dan sahabat. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada teman-teman untuk berjuang mencapai apa yang diinginkan. Juga untuk mahasiswa, in syaa Allah akan dimudahkan dan tetap semangat meskipun harus berpisah dengan dosen rempong, cerewet, galak, tapi ngangenin seperti saya.

Pengumuman tes lanjutan pun sudah datang. Di hari kami melakukan tes lanjutan ini, saya sangat grogi karena saya harus mengalahkan 2 pesaing yang tentu saja sama-sama mumpuni dan sudah berpengalaman. Saya berusaha sekuat tenaga menampilkan yang terbaik. Karena saat itu yang ada di pikiran saya, ketika saya gagal, saya sudah membuang uang dengan sia-sia. Uang apa??? Ongkos pesawat Semarang-Sibolga tidak murah, jadi sayang sekali jika ini sia-sia karena saya kalah akibat tidak sungguh-sungguh dalam ujian.

Sebulan lebih kami menunggu dengan galau di Padangsidimpuan. Saya selalu merindukan sulung kami, Azzam yang terpaksa kami tinggal karena belum pasti juga kami diterima. Jadi sayang ongkos. Apalagi dia kan sudah 2 tahun yang artinya ongkos pesawat pun sama dengan penumpang dewasa. Setelah tes kedua, kami memutuskan untuk pulang ke Kendal mengurus dokumen-dokumen serta melepas rindu dengan Azzam dan bapak ibu.


Baru sehari di Kendal, alhamdulillah kami mendapat kabar baik. Alhamdulillah kami lolos cpns menjadi calon dosen di IAIN Padangsidimpuan. Dan drama pamitan dengan keluarga dan tetangga di Kendal pun dimulai. Keluarga dan tetangga sedih karena harus berpisah dengan Azzam yang unyu-unyu itu. Azzam yang lahir di Padangsidimpuan akan kembali ke tanah kelahirannya. Semoga kami sekeluarga diberi kemudahan, kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi drama kehidupan berikutnya.

Menuju Padangsidimpuan

Keceriaan Azzam di Ruang Tunggu

Senin, 24 Maret 2014

Curhatnya Seorang Dosen Baru

Alhamdulillah, total sudah lima semester saya kembali memasuki dunia pendidikan tinggi. Bukan sebagai mahasiswa Program Doktor, tetapi sebagai staff pengajar di Perguruan Tinggi. Tiga semester awal saya lalui sebagai dosen tidak tetap di salah satu PTN di Sumatera Utara. Sempat berhenti selama satu semester ketika anak saya lahir dan kami memutuskan untuk hijrah ke Kendal. Dua semester ini saya diangkat sebagai dosen tetap di sebuah PTS baru di Kendal, kampung halaman saya.

Keceriaan Sebelum Berangkat

Saya sangat menikmati pekerjaan saya sebagai pengajar. Berkesempatan berbagi ilmu adalah alasan yang utama. Bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan antusias dengan materi yang saya berikan adalah kepuasan tersendiri. Alasan berikutnya adalah bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan rekan kerja sesama dosen yang semakin menambah ilmu dan wawasan yang saya punya. Sungguh nikmat yang luar biasa yang Alloh berikan kepada saya.

Meskipun masih seumur jagung menjadi seorang dosen, banyak sekali hal yang membuat saya merasakan manis, asam, asin dan pahitnya kehidupan. Hehe. Sebagai pengguna social media, terutama facebook dan twitter tak jarang saya mencurahkan isi hati ke dalam “status facebook” dan kicauan di twitter.

Kisah manis dan bercampur sedikit asam seperti tergambar pada status saya berikut ini:

Curhat #1


9 September 2011 
“banyak yang mengira saya mahasiswa, hehe jadi pengen jadi mahasiswa lagi.. :D”

Ada dua kejadian yang melatar belakangi munculnya status tersebut. Kejadian pertama adalah ketika pertama kali memasuki ruangan kantor dosen, teman-teman dosen mengira saya mahasiswa yang sedang mencari dosen. Maklum saja, saat itu saya masih berumur 24 tahun, masih imut-imut, masih pantas juga menjadi mahasiswa S1. Ahh saya jadi tersipu malu.. Kejadian kedua adalah ketika saya berjalan pulang selepas mengajar. Beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul memanggil saya dan berkata. “Dek, dapat salam dari kawanku”. Saya hanya belalu diam. Tak saya pedulikan lagi mahasiswa-mahasiswa tersebut memanggil. Dalam hati saya, sebel banget, tapi pengen ngakak juga. Ternyata ada-ada saja ya tingkah polah mahasiswa.

Seorang sahabat bernama Adis Imam Munandar memberikan komentar “saya senang atau sedih yah.. senang: berarti awet muda.. sedih: kelakuan kayak anak kecil kali jadi disangka mahasiswi dech.. :p”

Komentar tersebut memang benar adanya. Ada dua kemungkinan banyak orang yang mengira saya mahasiswa. Yang pertama mungkin karena saya memang awet muda.. hehe, yang ini minta ditimpuk. Atau yang kedua, karena kelakuan saya yang seperti anak kecil. Apakah cara bicara saya, ataukah sikap dan pembawaan saya. Entahlah, yang pasti saya harus banyak introspeksi diri dengan adanya komentar ini.

Tidak hanya kisah manis asam saja yang pernah saya alami dan saya tuliskan di status facebook. Kisah asin dan pahit berikut ini juga saya tuangkan di status facebook berikut ini:

1 Agustus 2012 
“seobjektif mungkin saya berusaha menilai sesuatu,, namun kalau masih saja ada yang keberatan seharusnya bicarakan baik2 tidak dengan mengumpat dengan akun facebook yang tidak jelas, itu tidak mencerminkan perilaku mahasiswa..”

Curhat #2

Status tersebut dilatarbelakangi oleh kejadian yang membuat saya menangis semalaman.. Haha, yang ini agak lebay.. Seorang pengguna facebook dengan akun yang tidak dikenal mengirim inbox pada saya yang isinya cacian, makian, protes, dan macam-macam lainnya yang berkaitan dengan cara penilaian yang saya lakukan. Saya merasa sedih dan kecewa. Saya merasa sudah memberikan nilai sesuai ketentuan. Tetapi tetap saja ada pihak-pihak tertentu yang merasa keberatan. Namun, lagi-lagi dengan kejadian ini, saya harus banyak introspeksi diri agar ke depannya semakin baik.

Di tengah kegalauan saya, sahabat terdekat sekaligus teman #BincangMalam saya Rizal Ma’ruf Amidy Siregar berkomentar “zaman edan... sayangnya masih ada mahasiswa/i yang tidak menyadari kalo FB dapat menjadi media SILATURRAHMI.. sayangnya ada yang memanfaatkan FB untuk mengumpat dan mencari musuh.. dan merasa AMAN KARENA TIDAK KELIHATAN. TAPI.. Bukankah ALLAH MAHA MELIHAT???”. 

Komentar sahabat tersebut sedikit melegakan saya. Saya jadi berpikir, mungkin mahasiswa/i yang melakukan protes kepada saya tersebut sedang galau, dan menumpahkan kegalauannya ke social media. Namun, kegalauan yang membabi buta menyerang kesana kemari itu tidak hanya bisa merugikan orang lain, tetapi si pengguna tersebut juga akan terkena dampaknya. Jadi, bijaklah menggunakan social media. Gunakanlah social media untuk menjalin silaturrahmi, bukan untuk mencari musuh.



Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan DuaStatus di BlogCamp.


Sabtu, 22 Maret 2014

#Bincang Malam: Kehidupan Masyarakat Suku Baduy

Saya dan suami memang sering melakukan rumpian perbincangan tengah malam. Entah kenapa perbincangan tengah malam kami kali ini jatuh pada tema “Suku Baduy”. Saya jadi teringat, ketika dulu masih menjadi mahasiswa IPB, sering menjumpai beberapa orang Suku Baduy yang masuk ke kampus dan jualan madu hutan. Mereka berpakaian serba hitam, memakai ikat kepala, membawa tas kain, dan tanpa alas kaki. Menurut informasi teman-teman sih mereka berasal dari Suku Baduy Luar. Hmm, ada Baduy Luar pasti ada juga dong Baduy Dalam. Dari pada banyak berangan-angan, jadilah saya kepo tentang masyarakat Suku Baduy.

Gambar diambil dari sini

Orang Baduy/Badui atau orang Kanekes adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Orang Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.
Komunikasi sehari-hari orang Baduy menggunakan Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Baduy Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Jika kita melihat sejarahnya, sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, Priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan kerajaaan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang, malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua” Artinya: “jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“

Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampung Cibeo (Baduy Dalam). Mereka memiliki ciri-ciri: berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.

Gambar diambil dari sini

Versi lain menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar Prabu Pucuk Umun. Setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan.

Keturunan ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ). Mereka memiliki ciri khas sama dengan di kampung Cikeusik yaitu: wataknya keras,acuh, sulit untuk diajak bicara (hanya seperlunya), kuat terhadap hukum Adat, tidak mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju putih (blacu) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih memakai sarung tenun biru tua (di atas lutut).

Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah Sumedang, Priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi kebanyakan mereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada kesamaan ciri khas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar ), Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Mereka memiliki ciri sebagai berikut: berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat karena mereka masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.

Suku Baduy berasal dari daerah di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat berbeda.  Sebutan bagi suku Baduy terdiri dari:
  1. Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
  2. Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di Desa Kanekes yang masih terikat oleh Hukum adat di bawah pimpinan Puun (kepala adat).
  3. Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat.

Nah, inilah hasil kepo saya. Ternyata benar, bahwa beberapa orang Suku Baduy yang pernah saya lihat di kampus berasal dari Baduy Luar, jika kita lihat ciri-cirinya. Menurut saya, ada beberapa hal yang menarik tentang masyarakat Suku Baduy adalah cara hidup mereka yang benar-benar menjaga kelestarian alam. Adapun prinsip hidup masyarakat Baduy yang selaras dengan alam adalah petatah-petitih masyarakat ada Baduy yaitu:

Gunung tak diperkenankan dilebur
Lembah tak diperkenankan dirusak
Larangan tak boleh di rubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang bukan harus ditolak
Yang jangan harus dilarang
Yang benar haruslah dibenarkan

Bukti bahwa masyarakat Baduy hidup berdampingan dengan alam secara harmonis yaitu masyarakat Baduy sangat menjaga air agar selalu jernih dan bersih sehingga bisa dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Masyarakat Baduy yang tidak memiliki kamar mandi maupun WC dirumah panggungnya, memiliki aturan untuk tidak membuang sampah, menggunakan sabun, deterjen dan bahan-bahan kimia lain yang dapat mengotori sungai. Selain itu, pembagian area-area dalam pemanfaatan sungai juga merupakan sebuah konsep dalam memperhatikan daya pulih air. Setiap kampung telah memiliki area-area khusus dalam pemanfaatan sungai. Area sungai untuk mandi, mencuci, buang air dan konsumsi memiliki areanya masing-masing sehingga masyarakat memperoleh air yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan.

Gambar diambil dari sini

Bukti lain bahwa masyarakat Baduy hidup berdampingan dengan alam juga terlihat dari cara membangun rumah. Bagian paling bawah dari rumah adalah batu sebagai penopang tiang-tiang utama rumah yang terbuat dari kayu. Tetapi, tidak seperti rumah pada umumnya, masyarakat Baduy tidak menggali tanah untuk pondasi. Batu hanya diletakan di atas tanah. Jika kontur tanah tidak rata, maka bukan tanah yang menyesuaikan sehingga diratakan, tetapi batu dan tiang kayu yang menyesuaikan. Jadi, panjang pendeknya batu mengikuti kontur tanah. Bahan bangunan rumah masyarakat Baduy merupakan bahan yang bisa dan mudah diurai oleh tanah. Bahan tersebut diantaranya dinding bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa dan rangka rumah dari kayu alam yaitu kayu jati, kayu pohon kelapa dan kayu albasiah.

Gambar diambil dari sini

Masyarakat Baduy menyimpan hasil panen padi huma di sebuah leuit, lumbung padi. Leuit dibangun di pinggiran tiap kampung. Setiap keluarga memiliki leuit. Leuit adalah wujud pemahaman masyarakat Baduy tentang ketahanan pangan. Kondisi adanya leuit membuat masyarakat Baduy tidak kekurangan bahan pangan. Selain itu, apabila masyarakat Baduy akan menggunakan kayu maka kayu yang akan dipakai adalah kayu kayu yang telah kering dan tua. kayu bakar tersebut diperoleh dari pohon yang sudah dimakan rayap atau batang pohon dan ranting yang jatuh terserak. Masyarakat Baduy tidak menebang pohon untuk kayu bakar. Kearifan lokal ini menjadikan Baduy dan hutan di sekitarnya hidup harmonis selama ratusan tahun.

Jadi, mari kita teladani cara hidup menyatu dengan alam yang dilakukan masyarakat Suku Baduy. Mungkin akan terasa sulit bagi kita yang sudah terbiasa dengan bahan kimia, teknologi, dan hal-hal lain yang jika digunakan berlebihan akan merusak alam. Namun, setidaknya kita bisa menggunakan fasilitas yang ada tersebut secara bijak dan tidak berlebihan.



Sumber:


Selasa, 21 Januari 2014

Bersikap Lembut dan Tawadhu

Tawadhu secara istilah adalah tunduk dan patuh kepada otoritas kebenaran, serta kesediaan menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengatakan nya, baik dalam keadaan ridha maupun marah. Tawadhu juga merendahkan diri dan santun terhadap manusia, dan tidak melihat diri memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Alloh (manusia) yang lain nya. Orang yang berjiwa besar pasti memiliki sikap lembut dan tawadhu.

Tawadhu terdiri dari dua macam:

  1. Pertama: Tawadhu yang terpuji. Tawadhu yang terpuji adalah sikap merendahkan diri kepada Allah dan tidak berbuat semena-mena atau memandang remeh terhadap sesama.
  2. Kedua: Tawadhu yang tercela. Tawadhu yang tercela adalah sikap merendahkan diri dihadapan orang kaya dengan harapan mendapatkan sesuatu darinya. Orang yang berakal seharusnya menghindari sikap tawadhu yang tercela dan menerapkan tawadhu yang terpuji dalam setiap aspek kehidupan nya. Semoga setelah mengetahui hal ini kita bisa terhindar dari sikap tawadhu yang tercela. Aamiin. 

Salah satu kegiatan sebelum tidur yang saya lakukan bersama Azzam adalah bercerita. Kadang saya bercerita apa saja tentang saya dan ayahnya, ataupun bercerita dengan bantuan buku. Salah satu buku favorit saya untuk bercerita adalah “40 Kisah: Pengantar Anak Tidur”.

Pengantar Azzam Bobo.. :)

Satu kisah dalam buku ini sangat menarik bagi saya. Kisah tersebut menceritakan bagaimana Umar radhiyallahu’anhu dalam “Bersikap Lembut dan Tawadhu”.

Berikut ini kisahnya:

Suatu ketika, Umar radhiyallaahu’anhu pergi ke Syam ditemani budaknya. Karena sifat tawadhu dan kelembutannya, ia tidak serta merta selalu ingin dilayani oleh budaknya.  
Saat berjalan menunggang unta menuju Syam, beliau bergantian menunggangi unta dengan budaknya. Terkadang Khalifah Umar berada di atas unta, setelah itu berganti budaknya yang naik di atas unta, begitu seterusnya.  
Hingga suatu saat, mereka bertemu dengan Abu Ubaidah ibnul Jarrah, salah seorang yang diberitakan akan masuk surga. Abu Ubaidah mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, para pembesar negeri Syam akan keluar menemuimu. Alangkah tidak layaknya jika menyaksikanmu dalam kondisi seperti ini.”  
Akan tetapi Umar radhiyallahu’anhu menjawab, “Alloh telah memuliakan kita dengan agama Islam. Alloh adalah Mahalembut dan Dia menyukai kelembutan dalam segala sesuatu.”

Hikmah yang dapat diambil:

Menjadi pemimpin bukan berarti kita bisa sewenang-wenang kepada orang yang kita pimpin. Khalifah Umar telah mencontohkan kepada kita bagaimana bersikap kepada sesama manusia, walau dengan seorang budak sekalipun.

Memiliki sikap lembut dan tawadhu dalam diri kita, niscaya orang lain akan menghormati dan menyayangi kita.

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orangyang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Jumat, 20 Desember 2013

Selamat Datang Musim Penghujan

Wilayah Kendal dan sekitarnya mulai diguyur hujan selama sepekan ini. Hujan turun baik di pagi hari ketika saya hendak berangkat ke kantor maupun sore hari ketika saya pulang dari kantor. Bahkan ketika hendak sholat dzuhur ke masjid pondok (kebetulan kantor saya di kawasan pondok pesantren) rintik hujan pun menemani perjalanan saya. Sebelum turun hujan, langit di atas tempat saya bernaung berubah warna menjadi lebih gelap, tiupan angin menyejukkan, serta tak jarang suara petir juga meramaikan suasana musim penghujan ini. 

Tanda-tanda Hujan Akan Turun
Saya sangat menyukai suasana hujan. Aroma khas tanah yang terguyur air hujan dan air yang mengalir ke permukaan bumi bagi saya itu adalah rizki yang Allah turunkan untuk manusia dan makhluk lain di muka bumi.
Jadi tidak hanya manusia yang mendapatkan berkah dengan datangnya musim hujan. Saya melihat ketika turun hujan pertama di musim ini, daun-daun bersemi, segar, seperti ketika kita menghabiskan segelas air putih saat berbuka puasa. Tidak hanya itu, hewan-hewan kecil, seperti laron, jangkrik bahkan walang sangitpun ikut berpesta merayakan turunnya hujan. Subhanallah..

Pulang Kantor Diiringi Hujan

Ketika hujan turun, saya teringat kebiasaan saya waktu kecil yang gemar sekali main hujan-hujanan. Saya tidak peduli apakah saya akan demam setelah hujan-hujanan atau tidak, yang saya mengerti saat itu, saya senang ketika hujan turun. Saat hujan turun, saya sudah siap dengan payung kecil saya, tanpa alas kaki, namun sudah menyiapkan perahu kertas untuk dialirkan di sungai irigasi dekat rumah kami. Bahkan ketika tidak membuat perahu kertas pun saya tetap menikmati saat-saat bermain dengan air hujan. Makanya ketika saya melihat di depan kantor saya banyak santri yang bermain sepak bola waktu hujan, saya tersenyum dalam hati dan bergumam, betapa bahagianya mereka.

Area Bermain Sepak Bola untuk Para Santri

Dari situ saya berfikir, jika Azzam sudah besar nanti dan dia inggin juga main hujan-hujanan, saya tidak akan melarangnya. Saya ingin azzam bisa menikmati senangnya bermain air hujan seperti mamanya dulu waktu kecil. Bermain saat hujan juga bisa membantu anak belajar fenomena alam. Tetapi untuk ibu, jangan lupa ajak mandi ananda agar bebas dari kuman berbahaya. Selamat menyambut musim penghujan.. :)

Kamis, 19 Desember 2013

Badan Segar, Kantukpun Menjauh dengan Jus Buah Segar

Bagaimana manfaat yang dirasakan setelah 3 hari rutin minum jus di pagi hari?
Badan terasa segar, lebih fit dan tidak mengantuk. Yang terakhir ini sangat membatu saya. Maklum, jam kerja di kantor mengharuskan saya sudah sampai kantor pukul 05.15. Rutinitas yang saya kerjakan ketika sampai di kantor adalah membersihkan dan merapikan tempat kerja (meja) saya, sarapan, menyiapkan materi mengajar, melakukan evaluasi pembelajaran, mengajar dan masih banyak lagi kegiatan yang harus saya kerjakan hingga pukul 16.15 tiba. Dengan jam kerja yang panjang tersebut, sering saya merasa kantuk pada jam-jam kritis. Misalnya setelah sarapan dan setelah makan siang. hehe
Alhamdulillah tiga hari ini kantuk tidak melanda saya di tempat kerja. Saya langsung berasumsi bahwa ini dikarenakan saya minum jus buah segar setelah bangun tidur sebelum berangkat ke kantor. Semoga ke depannya dengan rutin minum jus di pagi hari saya menjadi semakin sehat dan bersemangat di kantor. Oh iya, saya mau share jus yang saya minum dua hari terakhir ini:
1. Jus Wortel, Tomat, Yoghurt Strawberry
Bahan: 
  • 1 buah wortel ukuran sedang, 
  • 1 buah tomat buah ukuran sedang, 
  • 150 mL yoghurt strawberry, 
  • 200 mL air mineral
Cara Membuat:
  • kupas dan cuci bersih buah dan sayur, 
  • potong-potong buah dan sayur, 
  • masukkan buah dan sayur potong ke dalam gelas blender,
  • masukkan juga yoghurt dan air mineral,
  • proses hingga halus
  • segera minum 
Jus Wortel, Tomat, Yoghurt Strawberry

2. Jus Wortel, Mentimun, Jeruk Peras, Yoghurt Strawberry, Oat
Bahan: 
  • 1 buah wortel ukuran sedang,
  • 1 buah mentimun ukuran sedang
  • 2 buah jeruk peras ukuran kecil
  • 150 mL yoghurt srawberry
  • 1 sdm oat instan
  • 100 mL air mineral
Cara Membuat: 
  • kupas dan cuci bersih buah dan sayur, 
  • potong-potong buah dan sayur, 
  • masukkan buah dan sayur potong ke dalam gelas blender,
  • masukkan juga yoghurt, oat dan air mineral,
  • proses hingga halus
  • segera minum 
Jus Wortel, Mentimun, Jeruk Peras, Yoghurt Strawberry, Oat

Keunikan Masjid Syech Sulaiman Lubis Alkholidy

Assalamualaikum wr. wb. Senin, 13 juni 2016 saya dan rombongan melakukan perjalanan dari kota padangsidimpuan menuju kabupaten mandaili...