Tampilkan postingan dengan label my passion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my passion. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Tentang Kuliah DPR [Di-bawah Pohon Rindang]

Suatu siang, saya ada dua jadwal ngajar untuk matakuliah entrepreneurship. Karena pertemuan kali ini diagendakan untuk diskusi kelompok, saya ajak teman-teman mencari suasana belajar yang baru. Cuaca siang itu cukup terik. Jadi kami memutuskan untuk belajar di lapangan upacara tepatnya di bawah pohon rindang. 

Saya sangat terkesan dengan mahasiswa di satu kelas yang saya ajar. Mereka aktif dalam diskusi. Mereka tidak malu dalam bertanya ataupun mengungkapkan pendapatnya. Bahkan untuk tugas yang seharusnya dikumpulkan sebelum ujian akhir semester, mereka hanya perlu waktu satu minggu untuk menyelesaikan tugas itu. Luar biasa semangat teman-teman mahasiswa ini. Saya bangga bisa sharing informasi bersama kalian. Semoga di matakuliah apapun, semangat dan kekompakan kalian tetap terjaga.

Di Belakang Saya Itulah Pohon Rindangnya

Setelah perkuliaahan selesai, saya membuka diskusi dengan teman-teman mahasiswa. Saya tanyakan kepada mereka mengenai tanggapan tentang perkuliahaan di lapangan. Ada sisi positih dan negatif dari metode belajar kali ini. Berikut ini rangkumannya:

+ Suasananya menyenangkan karena hembusan angin sepoi-sepoi
+ Tidak ngantuk, karena supply oksigen ke otak optimal
+ Suasana belajar lebih relax, karena melihat hijaunya dedaunan
+ Lebih mudah menangkap pesan-pesan yang disampaikan oleh dosen.

- Dilihat oleh oranag lewat, jadi konsentrasi sedikit menurun
- Banyak semut
- Karena angin terlalu kencang, saya masuk angin

Sisi negatif yang terakhir itu saya alami sendiri. Ketika adzan ashar sudah berkumandang, saya bersiap untuk pergi ke masjid, ambil wudhu dan sholat berjamaah. Karena terlalu lama berangin-angin, saya pun sempat tiga kali batal. #disitukadangsayamerasasedih. Dan akhirnya saya tidak sholat berjamaah karena sholat berjamaah sudah selesai dilaksanakan. 

Masalah angin itu tidak berhenti pada drama menjelang sholat ashar saja. Ketika saya kembali ke teman-teman mahasiswa dan menjelaskan sedikit tentang materi, tamu tak diundang datang lagi. Iya, saya K*N*UT bunyi tetapi tidak bau dan apesnya ketika mahasiswa sedang konsen mendengarkan penjelasan saya. Kalau ada mahasiswa yang baca blog ini dan tadi ikut kelas saya pasti sudah ngakak guling-guling. But, show must go on.. Saya teruskan aja ngomong, bercerita dan membahas hasil diskusi yang sudah dilakukan. :) 

Minggu, 01 Februari 2015

Babak Baru Drama Kehidupan

Drama kehidupan keluarga kami mencapai babak baru dengan banyaknya perubahan yang sudah kami alami. Saya dan suami pindah kerja yang mengharuskan kami pindah domisili dari Kendal kembali ke Padangsidimpuan. Karena itu anak-anak pun ikut kami boyong ke kota kelahiran suami.

Cerita dimulai ketika bulan September ada pengumuman pembukaan CPNS di IAIN Padangsidimpuan. Mengetahui informasi tersebut, saya yang merasa sudah nyaman dengan pekerjaan kala itu bertekad untuk tidak mendaftar. Tetapi setelah melalui perdebatan panjang semalaman dibarengi dengan drama nangis bak ngiris bawang, saya dan suami sepakat mendaftar. Menjadi dosen adalah minat saya dan suami. Sedangkan memiliki anak dosen pns adalah keinginan mertua yang paling utama. Itu lah yang menjadi salah satu motif kenapa akhirnya saya dan suami ingin mendaftar tahun ini. Di sisi lain untuk jurusan kami, ada 2 formasi berbeda yang dibutuhkan. Artinya saya dan suami tidak harus bersaing untuk mendapatkan posisi yang sama.

Setelah melalui drama yang panjang untuk meminta restu dari orang tua, akhirnya kami memperoleh izin untuk mendaftar. Konsekuensi dari pilihan ini tentu saja bapak dan ibu akan kesepian karena kami harus pindah dari Kendal. Ini sedikit lucu sebenarnya karena sepertinya PeDe sekali akan diterima, sedangkan mendaftar saja belum. Meskipun berat, alhamdulillah bapak ibu memberikan dukungan penuh kepada kami. Terutama berkat doa bapak ibu dan mertua juga Allah banyak memberikan kemudahan dalam prosesnya.

Masa cuti sebelum melahirkan saya gunakan untuk mendaftar online, mengirim berkas, hingga menyiapkan dokumen-dokumen penting lainnya. Masa galau menunggu jadwal tes pun tak sengaja dilalui dengan gembira karena kami kedatangan anggota keluarga baru. Perempuan mungil, sehat, dan in syaa Allah salehah yang kami beri nama Akifa Jannata Siregar. Tak lama kemudian surat panggilan tes cat pun datang. Kami harus melalui tes pada tanggal 14 November 2014 di Padangsidimpuan. Akhirnya setelah berunding dengan suami dan mengumpulkan tabungan untuk ongkos ke Padangsidimpuan, kami pun mendapat tiket tanggal 10 November 2014 dengan rute SRG-JKT-PLZ. Kali ini kami memilih rute tersebut dengan pertimbangan kami harus membawa Akifa yang saat hari keberangkatan masih berusia 38 hari.

SRG

PLZ (Sibolga)

Perjalanan panjang dari Kendal-Semarang-Jakarta-Sibolga-Padangsidimpuan saya, suami dan Akifa pun alhamdulillah berjalan lancar. Hanya sedikit kendala ada di suami yang punya masalah telinga berdenging ketika landing. Kali ini sedikit parah karena suami sampai keringat dingin. Sesampai di Padangsidimpuan kami masih mempunyai waktu untuk menyiapkan mental dan fisik untuk menghadapi CAT.

Hari yang ditunggu tiba, dengan sebelumnya menyiapkan ASIP untuk Akifa, saya berangkat ke lokasi tes diiringi dengan doa suami dan orang-orang yang menyayangi saya. Saya berangkat sendiri karena suami mendapat giliran sesi 2 sedangkan saya sesi 1. Alhamdulillah setelah tes berakhir saya dan suami mendapat nilai yang cukup memuaskan. Kami menduduki peringkat teratas di formasi masing-masing. Sedangkan suami yang hingga akhir sesi pun menduduki peringkat teratas dari semua formasi. Saya sangat bangga dengannya J

Masa-masa menunggu tahap tes selanjutnya pun dilalui dengan drama di mana kami harus resign dari tempat kerja yang lama akibat masa cuti sudah habis. Berat sekali bagi saya berpisah dengan teman-teman seperjuangan dan mahasiswa yang, sunggu sudah seperti anak, adik, dan sahabat. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada teman-teman untuk berjuang mencapai apa yang diinginkan. Juga untuk mahasiswa, in syaa Allah akan dimudahkan dan tetap semangat meskipun harus berpisah dengan dosen rempong, cerewet, galak, tapi ngangenin seperti saya.

Pengumuman tes lanjutan pun sudah datang. Di hari kami melakukan tes lanjutan ini, saya sangat grogi karena saya harus mengalahkan 2 pesaing yang tentu saja sama-sama mumpuni dan sudah berpengalaman. Saya berusaha sekuat tenaga menampilkan yang terbaik. Karena saat itu yang ada di pikiran saya, ketika saya gagal, saya sudah membuang uang dengan sia-sia. Uang apa??? Ongkos pesawat Semarang-Sibolga tidak murah, jadi sayang sekali jika ini sia-sia karena saya kalah akibat tidak sungguh-sungguh dalam ujian.

Sebulan lebih kami menunggu dengan galau di Padangsidimpuan. Saya selalu merindukan sulung kami, Azzam yang terpaksa kami tinggal karena belum pasti juga kami diterima. Jadi sayang ongkos. Apalagi dia kan sudah 2 tahun yang artinya ongkos pesawat pun sama dengan penumpang dewasa. Setelah tes kedua, kami memutuskan untuk pulang ke Kendal mengurus dokumen-dokumen serta melepas rindu dengan Azzam dan bapak ibu.


Baru sehari di Kendal, alhamdulillah kami mendapat kabar baik. Alhamdulillah kami lolos cpns menjadi calon dosen di IAIN Padangsidimpuan. Dan drama pamitan dengan keluarga dan tetangga di Kendal pun dimulai. Keluarga dan tetangga sedih karena harus berpisah dengan Azzam yang unyu-unyu itu. Azzam yang lahir di Padangsidimpuan akan kembali ke tanah kelahirannya. Semoga kami sekeluarga diberi kemudahan, kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi drama kehidupan berikutnya.

Menuju Padangsidimpuan

Keceriaan Azzam di Ruang Tunggu

Senin, 24 Maret 2014

Curhatnya Seorang Dosen Baru

Alhamdulillah, total sudah lima semester saya kembali memasuki dunia pendidikan tinggi. Bukan sebagai mahasiswa Program Doktor, tetapi sebagai staff pengajar di Perguruan Tinggi. Tiga semester awal saya lalui sebagai dosen tidak tetap di salah satu PTN di Sumatera Utara. Sempat berhenti selama satu semester ketika anak saya lahir dan kami memutuskan untuk hijrah ke Kendal. Dua semester ini saya diangkat sebagai dosen tetap di sebuah PTS baru di Kendal, kampung halaman saya.

Keceriaan Sebelum Berangkat

Saya sangat menikmati pekerjaan saya sebagai pengajar. Berkesempatan berbagi ilmu adalah alasan yang utama. Bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan antusias dengan materi yang saya berikan adalah kepuasan tersendiri. Alasan berikutnya adalah bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan rekan kerja sesama dosen yang semakin menambah ilmu dan wawasan yang saya punya. Sungguh nikmat yang luar biasa yang Alloh berikan kepada saya.

Meskipun masih seumur jagung menjadi seorang dosen, banyak sekali hal yang membuat saya merasakan manis, asam, asin dan pahitnya kehidupan. Hehe. Sebagai pengguna social media, terutama facebook dan twitter tak jarang saya mencurahkan isi hati ke dalam “status facebook” dan kicauan di twitter.

Kisah manis dan bercampur sedikit asam seperti tergambar pada status saya berikut ini:

Curhat #1


9 September 2011 
“banyak yang mengira saya mahasiswa, hehe jadi pengen jadi mahasiswa lagi.. :D”

Ada dua kejadian yang melatar belakangi munculnya status tersebut. Kejadian pertama adalah ketika pertama kali memasuki ruangan kantor dosen, teman-teman dosen mengira saya mahasiswa yang sedang mencari dosen. Maklum saja, saat itu saya masih berumur 24 tahun, masih imut-imut, masih pantas juga menjadi mahasiswa S1. Ahh saya jadi tersipu malu.. Kejadian kedua adalah ketika saya berjalan pulang selepas mengajar. Beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul memanggil saya dan berkata. “Dek, dapat salam dari kawanku”. Saya hanya belalu diam. Tak saya pedulikan lagi mahasiswa-mahasiswa tersebut memanggil. Dalam hati saya, sebel banget, tapi pengen ngakak juga. Ternyata ada-ada saja ya tingkah polah mahasiswa.

Seorang sahabat bernama Adis Imam Munandar memberikan komentar “saya senang atau sedih yah.. senang: berarti awet muda.. sedih: kelakuan kayak anak kecil kali jadi disangka mahasiswi dech.. :p”

Komentar tersebut memang benar adanya. Ada dua kemungkinan banyak orang yang mengira saya mahasiswa. Yang pertama mungkin karena saya memang awet muda.. hehe, yang ini minta ditimpuk. Atau yang kedua, karena kelakuan saya yang seperti anak kecil. Apakah cara bicara saya, ataukah sikap dan pembawaan saya. Entahlah, yang pasti saya harus banyak introspeksi diri dengan adanya komentar ini.

Tidak hanya kisah manis asam saja yang pernah saya alami dan saya tuliskan di status facebook. Kisah asin dan pahit berikut ini juga saya tuangkan di status facebook berikut ini:

1 Agustus 2012 
“seobjektif mungkin saya berusaha menilai sesuatu,, namun kalau masih saja ada yang keberatan seharusnya bicarakan baik2 tidak dengan mengumpat dengan akun facebook yang tidak jelas, itu tidak mencerminkan perilaku mahasiswa..”

Curhat #2

Status tersebut dilatarbelakangi oleh kejadian yang membuat saya menangis semalaman.. Haha, yang ini agak lebay.. Seorang pengguna facebook dengan akun yang tidak dikenal mengirim inbox pada saya yang isinya cacian, makian, protes, dan macam-macam lainnya yang berkaitan dengan cara penilaian yang saya lakukan. Saya merasa sedih dan kecewa. Saya merasa sudah memberikan nilai sesuai ketentuan. Tetapi tetap saja ada pihak-pihak tertentu yang merasa keberatan. Namun, lagi-lagi dengan kejadian ini, saya harus banyak introspeksi diri agar ke depannya semakin baik.

Di tengah kegalauan saya, sahabat terdekat sekaligus teman #BincangMalam saya Rizal Ma’ruf Amidy Siregar berkomentar “zaman edan... sayangnya masih ada mahasiswa/i yang tidak menyadari kalo FB dapat menjadi media SILATURRAHMI.. sayangnya ada yang memanfaatkan FB untuk mengumpat dan mencari musuh.. dan merasa AMAN KARENA TIDAK KELIHATAN. TAPI.. Bukankah ALLAH MAHA MELIHAT???”. 

Komentar sahabat tersebut sedikit melegakan saya. Saya jadi berpikir, mungkin mahasiswa/i yang melakukan protes kepada saya tersebut sedang galau, dan menumpahkan kegalauannya ke social media. Namun, kegalauan yang membabi buta menyerang kesana kemari itu tidak hanya bisa merugikan orang lain, tetapi si pengguna tersebut juga akan terkena dampaknya. Jadi, bijaklah menggunakan social media. Gunakanlah social media untuk menjalin silaturrahmi, bukan untuk mencari musuh.



Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan DuaStatus di BlogCamp.


Minggu, 04 Maret 2012

melepas rindu

assalamualaikum wr wb..

setelah hampir 2 tahun lamanya lupa, alhamdulillah beberapa hari yang lalu saya bertemu kembali dengan blog ini. ini berawal dari keisengan saya searching di google dengan keyword nama saya.. halaman pertama tidak ada yang menarik, karena hanya ada nama saya di beberapa jejaring sosial.. halaman berikutnya,, hmm ada beberapa hasil karya yang menguras tenaga dan air mata (skripsi & tesis),, haha mau sedikit lebay dulu.. dan akhirnya ketemulah dengan blog ini di halama ke tiga..
setelah hampir 2 tahun ini sudah banyak cerita-cerita yang sebenernya bisa ditulis tetapi tidak tertulis,, lagi-lagi karena saya lupa kalau punya blog.. haha.. 2 tahun waktu yang tidak lama memang, tapi sudah banyak hal yang terjadi dalam hidup saya.. selesainya kewajiban menyelesaikan studi, ujian, wisuda hingga bergantinya status dari single menjadi married.. alhamdulillah..
pekerjaan baru, hobby baru, lingkungan baru, orang baru telah mewarnai hidup saya saat ini.. senang rasanya.. walaupun kadang muncul saat-saat galau ketika teringat sahabat masa kuliah.. ahh.. saya rindu kalian semua..

Keunikan Masjid Syech Sulaiman Lubis Alkholidy

Assalamualaikum wr. wb. Senin, 13 juni 2016 saya dan rombongan melakukan perjalanan dari kota padangsidimpuan menuju kabupaten mandaili...