Tampilkan postingan dengan label diare. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diare. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2015

Ternyata obat diare itu ....

Diare ....

Gambar diambil dari sini


Tidak nyaman sekali rasanya ketika kita harus berulang kali bolak balik kamar mandi untuk BAB yang super lancar itu. Lemas, itu yang saya rasakan setelah 6 hari berturut-turut diare. 

Sebelumnya saya memang seringkali mengalami diare. Diare yang saya alami ini kalau menurut saya karena faktor psikologis. Kenapa saya bisa menyimpulkan seperti itu? Karena berdasarkan pengalaman yang saya alami, diare ini biasa datang di saat saya merasa grogi, misalnya menjelang ujian, seminar, sidang, dan moment wow lainnya.

Diare kali ini saya tidak minum obat diare, karena saya sedang menyusui. Saya hanya minum antasida, untuk mengobati maag yang biasa ikut datang ketika si diare ini datang. Tiga hari pertama diare, saya masih santai. Saya hanya memperbanyak cairan untuk mencegah dehidrasi. Antasida juga tidak saya minum, karena saya merasa masih kuat. Tiga hari berikutnya, gejala maag seperti kembung, mual, serdawa bau comberan mulai muncul. Saya mulai lemes, frekuensi BAB pun semakin sering. Akhirnya saya menyerah dan minum antasida sebari memperbanyak asupan cairan. 

Di hari keenam, saya mulai resah. Saya khawatir diare ini belum sembuh juga ketika besok pagi saya harus memberikan kuliah perdana di semester genap ini. Argh, semakin galau saya, diare semakin menjadi. Kemudian suami menawarkan beberapa solusi mulai dari tidak usah ngajar dulu sampai pakai diapers ke kampus. Yang terakhir ini saya tolak. Hahaha, ga kece rasanya kalau ke kampus pake diapers.

Senin subuh hingga ketika mandi sebelum saya berangkat ke kampus, diare masih terus datang. Meskipun lemas, saya niatkan saya tetap akan datang ke kampus. Semoga ga diare di kampus. Sugesti itu terus-terusan saya tanamkan. Tak lupa selalu berdoa agar Allah memberikan kesembuhan. 

Alhamdulillah, atas izin Allah, diare dan lemas ketika di rumah hilang seketika. Saya bisa memberikan kuliah dengan lancar tanpa terganggu hasrat ingin BAB. Saya ceritakan ini kepada suami. Dan kesimpulan saya dan suami adalah bahwa pergi ke kampus dan memberikan kuliah adalah obat diare saya kali ini. 

Lucu sekali kalau dirasakan. Tetapi ini kenyataan. Ternyata saya sudah rindu memberikan kuliah kembali setelah cuti dan resign. Sudah lama sekali memang saya tidak merasakan bahagianya sebagai pengajar. Dan ternyata rindu mengajar inilah yang menjadi penyebab diare berkepanjangan kali ini. Semoga ke depannya saya diberi kemudahan mengelola pikiran, agar tidak perlu diare lagi hanya karena galau.

Senin, 06 Januari 2014

Pertolongan Pertama Pada Diare

Diare seringkali dialami oleh bayi, anak-anak, maupun orang dewasa. Diare sendiri merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan buang air besar encer dan cair serta terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari. Penderita diare yang terus menerus tanpa pertolongan memadai rentan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) dan bahkan dikhawatirkan akan kekurangan nutrisi.

Kita terkadang akan panik atau bingung harus berbuat apa jika mendapati bayi atau anak-anak mengalami diare. Namun, panik bukan solusi yang tepat ketika menghadapi bayi atau anak yang diare. Ketika mengetahui anak mengalami diare, kita harus segera melakukan tindakan pertolongan pertama sebelum anak dibawa ke bidan atau ke dokter.


Pertolongan yang bisa dilakukan antara lain:
ü  Untuk bayi yang masih minum ASI, berikan ASI lebih sering.
ü  Berikan elektrolit kepada bayi agar mendapatkan elektrolit pengganti.
Jika tidak tersedia cairan elektrolit, “elektrolit rumahan” bisa dibuat dari air masak, gula, dan garam.
ü  Tempe mengandung zat alami penghenti diare. Untuk bayi, siapkan tempe dalam bentuk tepung agar mudah mencampurnya dengan makanan bayi.

Nah, ternyata pertolongan pertama diare bukan panik ya. Hehe. Selalu sedia cairan elektrolit dan tepung tempe di rumah untuk pertolongan pertama diare. Kalau begitu, simak resep membuat “elektrolit rumahan” dan tepung tempe berikut ini.

“Elektrolit Rumahan” Air – Gula – Garam
Untuk 100 mL

Bahan:
·         100 mL air masak
·         2 sdt gula pasir
·         3 sdt garam

Cara membuat:
Campurkan bahan, aduk hingga gula pasir dan garam larut.

Tepung Tempe
Untuk 100 g tepung tempe

Bahan:
250 g tempe (matang sempurna, tidak busuk)

Cara membuat:
1.       Panaskan oven pada sushu 1400 C. Siapkan loyang kue kering.
2.       Potong tempe setipis mungkin. Atur tempe berjajar di atas loyang. Panggang dalam oven hingga kering. Jika perlu, balik tempe, lalu masukkan lagi ke dalam loyang. Sisihkan tempe hingga dingin.

3.       Haluskan tempe dengan blender. Simpan dalam wadah bersih bertutup rapat.

Sumber: 
Wied Harry Apriadji "Makanan Bayi Sehat Alami"

Keunikan Masjid Syech Sulaiman Lubis Alkholidy

Assalamualaikum wr. wb. Senin, 13 juni 2016 saya dan rombongan melakukan perjalanan dari kota padangsidimpuan menuju kabupaten mandaili...