Senin, 16 Maret 2015

Tentang Bau Ketek Ayah


Suatu malam yang sudah larut, saya dan anak-anak sudah nyenyak tertidur. Tiba-tiba, si kecil akifa terbangun dan mulai menangis. Saya coba susui, tetapi dia menolak. Bahkan tangisannya pun semakin keras. Saya coba gendong dan peluk, tetap menangis semakin keras lagi. Saya raba perutnya, balur dengan minyak telon, masih menangis dengan alis yang semakin merah. Saya bingung, takut juga kalau tangisan gadis kecil ini akan membangunkan ompung dan neneknya atau bahkan mengganggu istirahat tetangga.

Saya coba bawa akifa keluar kamar menuju kamar kerja ayahnya. Ternyata ayah belum tidur. Ayah coba gendong akifa yang masih menangis. Berpindahlah gadis kecil ini ke pelukan ayahnya. Dan, seketika itu juga dia diam, senyum-senyum. Alhamdulillah akifa kembali ceria. Setelah 5 menit, ayah coba letakkan akifa untuk saya susui, ternyata dia kembali menangis. Akhirnya ayah peluk akifa lagi, sambil bernyanyi, hingga kemudia akifa tertidur pulas di pelukan ayah.


Setelah akifa kembali tidur, saya berbincang sedikit dengan ayah, membahas kenapa akifa galau malam ini. Analisis saya, akifa galau karena rindu bau asem ketek ayah. Dan kali ini, nenen pun tidak bisa mengalahkan bau ketek ayahnya. Meskipun sering galau kalau ayah tidur terlalu larut bahkan pagi. Saya ambil sisi positifnya, karena ada bala bantuan yang siap membantu ketika anak-anak rewel tengah malam. 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar