Rabu, 05 Februari 2014

"Berani Bicara" Baik dan Santun: Sebuah Proses

Konsisten menulis itu hal yang sulit bagi saya. Ketika kecil, saya suka mengoleksi buku harian lucu, tetapi tak sedikitpun ada tulisan saya di dalamnya. Mungkin hanya ada catatan biodata teman-teman sekelas. Selanjutnya Saya tumbuh besar menjadi seorang remaja yang tidak “Berani Bicara”. Malu mengungkapkan pendapat di depan umum. Perasaan khawatir berbuat/mengajukan pertanyaan bodoh yang pada akhirnya berlanjut muncul perasaan-perasaan tidak pede berbicara di depan umum. 

Saya bersyukur, karena saya masuk program studi yang mengharuskan/memaksa saya untuk “Berani Bicara”. Meskipun pada awalnya saya hanya mendapat nilai asal lulus di mata kuliah yang banyak diskusi dan presentasi. Saya tidak menyerah, hingga pada saat ini saya sudah mulai “Berani Bicara” di depan umum. Alhamdulillah, Alloh memberi kemudahan. Saya bisa melawan rasa malu untuk tampil. 


Proses "Berani Bicara"
Namun, pernahkah anda melihat tayangan di televisi yang kurang mendidik seperti menunjukkan kehidupan glamour remaja di mall, penggunaan bahasa alay, bahkan debat politik yang mirip orang berkelahi. Saya melihat ini akan berdampak buruk terhadap kemampuan berbahasa pada generasi muda. Mereka akan sulit berproses menjadi manusia yang "Berani Bicara" dengan baik lagi santun nantinya. Hal ini menjadi tugas kita bersama. Kita bisa mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga dan lingkungan sekitar kita. Tanamkan bahwa orang Indonesia "Berani Bicara" tetapi tetap santun adanya.



# 213 kata