Senin, 24 Maret 2014

Curhatnya Seorang Dosen Baru

Alhamdulillah, total sudah lima semester saya kembali memasuki dunia pendidikan tinggi. Bukan sebagai mahasiswa Program Doktor, tetapi sebagai staff pengajar di Perguruan Tinggi. Tiga semester awal saya lalui sebagai dosen tidak tetap di salah satu PTN di Sumatera Utara. Sempat berhenti selama satu semester ketika anak saya lahir dan kami memutuskan untuk hijrah ke Kendal. Dua semester ini saya diangkat sebagai dosen tetap di sebuah PTS baru di Kendal, kampung halaman saya.

Keceriaan Sebelum Berangkat

Saya sangat menikmati pekerjaan saya sebagai pengajar. Berkesempatan berbagi ilmu adalah alasan yang utama. Bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan antusias dengan materi yang saya berikan adalah kepuasan tersendiri. Alasan berikutnya adalah bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan rekan kerja sesama dosen yang semakin menambah ilmu dan wawasan yang saya punya. Sungguh nikmat yang luar biasa yang Alloh berikan kepada saya.

Meskipun masih seumur jagung menjadi seorang dosen, banyak sekali hal yang membuat saya merasakan manis, asam, asin dan pahitnya kehidupan. Hehe. Sebagai pengguna social media, terutama facebook dan twitter tak jarang saya mencurahkan isi hati ke dalam “status facebook” dan kicauan di twitter.

Kisah manis dan bercampur sedikit asam seperti tergambar pada status saya berikut ini:

Curhat #1


9 September 2011 
“banyak yang mengira saya mahasiswa, hehe jadi pengen jadi mahasiswa lagi.. :D”

Ada dua kejadian yang melatar belakangi munculnya status tersebut. Kejadian pertama adalah ketika pertama kali memasuki ruangan kantor dosen, teman-teman dosen mengira saya mahasiswa yang sedang mencari dosen. Maklum saja, saat itu saya masih berumur 24 tahun, masih imut-imut, masih pantas juga menjadi mahasiswa S1. Ahh saya jadi tersipu malu.. Kejadian kedua adalah ketika saya berjalan pulang selepas mengajar. Beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul memanggil saya dan berkata. “Dek, dapat salam dari kawanku”. Saya hanya belalu diam. Tak saya pedulikan lagi mahasiswa-mahasiswa tersebut memanggil. Dalam hati saya, sebel banget, tapi pengen ngakak juga. Ternyata ada-ada saja ya tingkah polah mahasiswa.

Seorang sahabat bernama Adis Imam Munandar memberikan komentar “saya senang atau sedih yah.. senang: berarti awet muda.. sedih: kelakuan kayak anak kecil kali jadi disangka mahasiswi dech.. :p”

Komentar tersebut memang benar adanya. Ada dua kemungkinan banyak orang yang mengira saya mahasiswa. Yang pertama mungkin karena saya memang awet muda.. hehe, yang ini minta ditimpuk. Atau yang kedua, karena kelakuan saya yang seperti anak kecil. Apakah cara bicara saya, ataukah sikap dan pembawaan saya. Entahlah, yang pasti saya harus banyak introspeksi diri dengan adanya komentar ini.

Tidak hanya kisah manis asam saja yang pernah saya alami dan saya tuliskan di status facebook. Kisah asin dan pahit berikut ini juga saya tuangkan di status facebook berikut ini:

1 Agustus 2012 
“seobjektif mungkin saya berusaha menilai sesuatu,, namun kalau masih saja ada yang keberatan seharusnya bicarakan baik2 tidak dengan mengumpat dengan akun facebook yang tidak jelas, itu tidak mencerminkan perilaku mahasiswa..”

Curhat #2

Status tersebut dilatarbelakangi oleh kejadian yang membuat saya menangis semalaman.. Haha, yang ini agak lebay.. Seorang pengguna facebook dengan akun yang tidak dikenal mengirim inbox pada saya yang isinya cacian, makian, protes, dan macam-macam lainnya yang berkaitan dengan cara penilaian yang saya lakukan. Saya merasa sedih dan kecewa. Saya merasa sudah memberikan nilai sesuai ketentuan. Tetapi tetap saja ada pihak-pihak tertentu yang merasa keberatan. Namun, lagi-lagi dengan kejadian ini, saya harus banyak introspeksi diri agar ke depannya semakin baik.

Di tengah kegalauan saya, sahabat terdekat sekaligus teman #BincangMalam saya Rizal Ma’ruf Amidy Siregar berkomentar “zaman edan... sayangnya masih ada mahasiswa/i yang tidak menyadari kalo FB dapat menjadi media SILATURRAHMI.. sayangnya ada yang memanfaatkan FB untuk mengumpat dan mencari musuh.. dan merasa AMAN KARENA TIDAK KELIHATAN. TAPI.. Bukankah ALLAH MAHA MELIHAT???”. 

Komentar sahabat tersebut sedikit melegakan saya. Saya jadi berpikir, mungkin mahasiswa/i yang melakukan protes kepada saya tersebut sedang galau, dan menumpahkan kegalauannya ke social media. Namun, kegalauan yang membabi buta menyerang kesana kemari itu tidak hanya bisa merugikan orang lain, tetapi si pengguna tersebut juga akan terkena dampaknya. Jadi, bijaklah menggunakan social media. Gunakanlah social media untuk menjalin silaturrahmi, bukan untuk mencari musuh.



Artikel ini diikutkan dalam Giveaway Blogger Dengan DuaStatus di BlogCamp.


Sabtu, 22 Maret 2014

#Bincang Malam: Kehidupan Masyarakat Suku Baduy

Saya dan suami memang sering melakukan rumpian perbincangan tengah malam. Entah kenapa perbincangan tengah malam kami kali ini jatuh pada tema “Suku Baduy”. Saya jadi teringat, ketika dulu masih menjadi mahasiswa IPB, sering menjumpai beberapa orang Suku Baduy yang masuk ke kampus dan jualan madu hutan. Mereka berpakaian serba hitam, memakai ikat kepala, membawa tas kain, dan tanpa alas kaki. Menurut informasi teman-teman sih mereka berasal dari Suku Baduy Luar. Hmm, ada Baduy Luar pasti ada juga dong Baduy Dalam. Dari pada banyak berangan-angan, jadilah saya kepo tentang masyarakat Suku Baduy.

Gambar diambil dari sini

Orang Baduy/Badui atau orang Kanekes adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Orang Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.
Komunikasi sehari-hari orang Baduy menggunakan Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Baduy Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Jika kita melihat sejarahnya, sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, Priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah Prabu Bramaiya Maisatandraman dengan gelar Prabu Siliwangi. Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah Sunan Gunung Jati dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan kerajaaan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang, malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua” Artinya: “jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan“

Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampung Cibeo (Baduy Dalam). Mereka memiliki ciri-ciri: berbaju putih hasil jaitan tangan (baju sangsang), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua (tenunan sendiri) sampai di atas lutut, dan sifat penampilannya jarang bicara (seperlunya) tapi amanah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.

Gambar diambil dari sini

Versi lain menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar Prabu Pucuk Umun. Setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan.

Keturunan ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ). Mereka memiliki ciri khas sama dengan di kampung Cikeusik yaitu: wataknya keras,acuh, sulit untuk diajak bicara (hanya seperlunya), kuat terhadap hukum Adat, tidak mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju putih (blacu) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih memakai sarung tenun biru tua (di atas lutut).

Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah Sumedang, Priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi kebanyakan mereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada kesamaan ciri khas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar ), Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Mereka memiliki ciri sebagai berikut: berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat karena mereka masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.

Suku Baduy berasal dari daerah di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat berbeda.  Sebutan bagi suku Baduy terdiri dari:
  1. Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu (Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
  2. Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di Desa Kanekes yang masih terikat oleh Hukum adat di bawah pimpinan Puun (kepala adat).
  3. Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat.

Nah, inilah hasil kepo saya. Ternyata benar, bahwa beberapa orang Suku Baduy yang pernah saya lihat di kampus berasal dari Baduy Luar, jika kita lihat ciri-cirinya. Menurut saya, ada beberapa hal yang menarik tentang masyarakat Suku Baduy adalah cara hidup mereka yang benar-benar menjaga kelestarian alam. Adapun prinsip hidup masyarakat Baduy yang selaras dengan alam adalah petatah-petitih masyarakat ada Baduy yaitu:

Gunung tak diperkenankan dilebur
Lembah tak diperkenankan dirusak
Larangan tak boleh di rubah
Panjang tak boleh dipotong
Pendek tak boleh disambung
Yang bukan harus ditolak
Yang jangan harus dilarang
Yang benar haruslah dibenarkan

Bukti bahwa masyarakat Baduy hidup berdampingan dengan alam secara harmonis yaitu masyarakat Baduy sangat menjaga air agar selalu jernih dan bersih sehingga bisa dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Masyarakat Baduy yang tidak memiliki kamar mandi maupun WC dirumah panggungnya, memiliki aturan untuk tidak membuang sampah, menggunakan sabun, deterjen dan bahan-bahan kimia lain yang dapat mengotori sungai. Selain itu, pembagian area-area dalam pemanfaatan sungai juga merupakan sebuah konsep dalam memperhatikan daya pulih air. Setiap kampung telah memiliki area-area khusus dalam pemanfaatan sungai. Area sungai untuk mandi, mencuci, buang air dan konsumsi memiliki areanya masing-masing sehingga masyarakat memperoleh air yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan.

Gambar diambil dari sini

Bukti lain bahwa masyarakat Baduy hidup berdampingan dengan alam juga terlihat dari cara membangun rumah. Bagian paling bawah dari rumah adalah batu sebagai penopang tiang-tiang utama rumah yang terbuat dari kayu. Tetapi, tidak seperti rumah pada umumnya, masyarakat Baduy tidak menggali tanah untuk pondasi. Batu hanya diletakan di atas tanah. Jika kontur tanah tidak rata, maka bukan tanah yang menyesuaikan sehingga diratakan, tetapi batu dan tiang kayu yang menyesuaikan. Jadi, panjang pendeknya batu mengikuti kontur tanah. Bahan bangunan rumah masyarakat Baduy merupakan bahan yang bisa dan mudah diurai oleh tanah. Bahan tersebut diantaranya dinding bilik bambu, atap dari ijuk dan daun pohon kelapa dan rangka rumah dari kayu alam yaitu kayu jati, kayu pohon kelapa dan kayu albasiah.

Gambar diambil dari sini

Masyarakat Baduy menyimpan hasil panen padi huma di sebuah leuit, lumbung padi. Leuit dibangun di pinggiran tiap kampung. Setiap keluarga memiliki leuit. Leuit adalah wujud pemahaman masyarakat Baduy tentang ketahanan pangan. Kondisi adanya leuit membuat masyarakat Baduy tidak kekurangan bahan pangan. Selain itu, apabila masyarakat Baduy akan menggunakan kayu maka kayu yang akan dipakai adalah kayu kayu yang telah kering dan tua. kayu bakar tersebut diperoleh dari pohon yang sudah dimakan rayap atau batang pohon dan ranting yang jatuh terserak. Masyarakat Baduy tidak menebang pohon untuk kayu bakar. Kearifan lokal ini menjadikan Baduy dan hutan di sekitarnya hidup harmonis selama ratusan tahun.

Jadi, mari kita teladani cara hidup menyatu dengan alam yang dilakukan masyarakat Suku Baduy. Mungkin akan terasa sulit bagi kita yang sudah terbiasa dengan bahan kimia, teknologi, dan hal-hal lain yang jika digunakan berlebihan akan merusak alam. Namun, setidaknya kita bisa menggunakan fasilitas yang ada tersebut secara bijak dan tidak berlebihan.



Sumber:


Rabu, 19 Maret 2014

Danau Toba, Si Cantik yang Terlewatkan

Gambar diambil dari sini

Danau Toba...

Ketika orang-orang punya impian jalan-jalan ke Eropa atau tempat-tempat indah lain di luar negeri sana, saya ingin ke Danau Toba.

Mungkin semua bertanya, kenapa harus ke Danau Toba? 

Apanya sih yang menarik di Danau Toba?

Bukankah saya sudah pernah tinggal dekat dengan Danau Toba?

Bersuamikan lelaki dari suku Batak dan pernah tinggal di Sumatera Utara hampir dua tahun lamanya, seharusnya saya punya banyak waktu untuk sekedar jalan-jalan bahkan mengekslorasi keindahan alam Danau Toba. Bagaimana tidak, pesona alam yang indah di Danau Vulkanik terbesar di dunia sungguh sayang jika dilewatkan begitu saja. Selain keindahan alam, kawasan Danau Toba juga kaya akan situs peninggalan sejarah. Di Pulau Samosir, pulau cantik di tengah Danau Toba, terdapat situs bersejarah diantaranya batu sidang di Ambarita, makam kuno orang Batak di Tomok dan situs perkampungan tua di Simanindo.  

Kakak dan Bere di  Tomok

Sayangnya saya melewatkan kesempatan yang saya punya saat itu. Saya terlalu sibuk, atau sok sibuk lebih tepatnya. Atau malas, mungkin ini yang paling tepat. Dengan alasan akses jalan raya dari Kota Padangsidimpuan, tempat tinggal saya di Sumatera, menuju Danau Toba rusak parah, saya urungkan niat jalan-jalan ke sana bersama keluarga.

Menurut cerita suami saya, Danau Toba dulu primadona Sumatera Utara, baik bagi wisatawan asing maupun domestik. Tetapi semenjak tahun 1990-an, Danau Toba mulai sepi, tidak banyak wisatawan yang datang. Krisis moneter yang terjadi dan diikuti dengan gangguan keamanan seperti kerusuhan di Jakarta dan Medan membuat wisatawan asing enggan datang lagi ke Danau Toba. Hal ini juga diperparah dengan bermigrasinya orang-orang yang tinggal di sekitar Danau Toba, yang dulunya menghidupkan wisata budaya di sekitaran Danau Toba.

Jika meminjam istilah “Babe Cabiita”,, AAHH SUDAAHLAAH...

Suatu saat, saya tetap akan ke Danau Toba dan Pulau Samosir Nauli..


Meskipun saat ini saya sudah tidak tinggal di Sumatera Utara lagi, Sumatera Utara khususnya Kota Padangsidimpuan tetap menjadi  kampung halaman ke dua saya. Semoga Alloh memberi kesempatan untuk saya, suami, dan anak-anak yang saat ini tinggal di Pulau Jawa untuk bersilaturahim dengan keluarga di sana. Dan juga tak lupa jalan-jalan bersama keluarga ke Danau Toba. 



Tulisan Ini diikutsertakan pada "MyDreamyVacation" mak Indah Nuria Savitri