Selasa, 21 Januari 2014

Bersikap Lembut dan Tawadhu

Tawadhu secara istilah adalah tunduk dan patuh kepada otoritas kebenaran, serta kesediaan menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengatakan nya, baik dalam keadaan ridha maupun marah. Tawadhu juga merendahkan diri dan santun terhadap manusia, dan tidak melihat diri memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Alloh (manusia) yang lain nya. Orang yang berjiwa besar pasti memiliki sikap lembut dan tawadhu.

Tawadhu terdiri dari dua macam:

  1. Pertama: Tawadhu yang terpuji. Tawadhu yang terpuji adalah sikap merendahkan diri kepada Allah dan tidak berbuat semena-mena atau memandang remeh terhadap sesama.
  2. Kedua: Tawadhu yang tercela. Tawadhu yang tercela adalah sikap merendahkan diri dihadapan orang kaya dengan harapan mendapatkan sesuatu darinya. Orang yang berakal seharusnya menghindari sikap tawadhu yang tercela dan menerapkan tawadhu yang terpuji dalam setiap aspek kehidupan nya. Semoga setelah mengetahui hal ini kita bisa terhindar dari sikap tawadhu yang tercela. Aamiin. 

Salah satu kegiatan sebelum tidur yang saya lakukan bersama Azzam adalah bercerita. Kadang saya bercerita apa saja tentang saya dan ayahnya, ataupun bercerita dengan bantuan buku. Salah satu buku favorit saya untuk bercerita adalah “40 Kisah: Pengantar Anak Tidur”.

Pengantar Azzam Bobo.. :)

Satu kisah dalam buku ini sangat menarik bagi saya. Kisah tersebut menceritakan bagaimana Umar radhiyallahu’anhu dalam “Bersikap Lembut dan Tawadhu”.

Berikut ini kisahnya:

Suatu ketika, Umar radhiyallaahu’anhu pergi ke Syam ditemani budaknya. Karena sifat tawadhu dan kelembutannya, ia tidak serta merta selalu ingin dilayani oleh budaknya.  
Saat berjalan menunggang unta menuju Syam, beliau bergantian menunggangi unta dengan budaknya. Terkadang Khalifah Umar berada di atas unta, setelah itu berganti budaknya yang naik di atas unta, begitu seterusnya.  
Hingga suatu saat, mereka bertemu dengan Abu Ubaidah ibnul Jarrah, salah seorang yang diberitakan akan masuk surga. Abu Ubaidah mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, para pembesar negeri Syam akan keluar menemuimu. Alangkah tidak layaknya jika menyaksikanmu dalam kondisi seperti ini.”  
Akan tetapi Umar radhiyallahu’anhu menjawab, “Alloh telah memuliakan kita dengan agama Islam. Alloh adalah Mahalembut dan Dia menyukai kelembutan dalam segala sesuatu.”

Hikmah yang dapat diambil:

Menjadi pemimpin bukan berarti kita bisa sewenang-wenang kepada orang yang kita pimpin. Khalifah Umar telah mencontohkan kepada kita bagaimana bersikap kepada sesama manusia, walau dengan seorang budak sekalipun.

Memiliki sikap lembut dan tawadhu dalam diri kita, niscaya orang lain akan menghormati dan menyayangi kita.

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orangyang bertakwa.” (al-Qashash: 83)

Reaksi:

3 komentar:

  1. Suka seneng kalau Mamah menceritakan cerita sebelum tidur, kadang cerita sahabat Rasul, kadang dongeng Indonesia, kadang cerita Mamah waktu kecil, tapi sekarang udah nggak lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe,, seru ya.. dari cerita-cerita mamah syifa itulah yang membuat syifa seperti sekarang.. masih muda tapi sudah pinter nulis dan kreatif.. :D

      Hapus
    2. Hehe... Mak bisa aja, Alhamdulillah :)) Tapi sekarang gantian, belajar berdongeng buat adik atau saudara yang masih kecil :D

      Hapus