Jumat, 22 Mei 2015

Tentang Muhasabah Diri

Muhasabah Diri atau Introspeksi Diri kali ini saya lakukan bertepatan dengan hari kelahiran saya yang ke 28 tahun. Sedih rasanya ketika melakukan muhasabah diri, kemudian menjumpai banyak kesalahan di sana sini. 

Sebagai istri, banyak sekali hal yang belum bisa saya laksanakan dengan maksimal. Maafkan aku sayang. Sebagai ibu, belum bisa menemani main tanpa terganggu oleh pekerjaan rumah ataupun kantor. Maafkan mama sayang. Sebagai anak, belum bisa membuat bapak, ibu, bou dan amangboru bahagia. Sebagai kakak dan adik, seringkali lisan mengumpat dan mencela. Sebagai pengajar, belum bisa memberikan yang terbaik untuk mahasiswa. Sebagai sahabat, seringkali ucapan membuat luka. Sebagai umat, masih belum bisa 100 % melakukan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Sebagai hamba, aku mohon ampun ya Rabb atas kesalahan. Semoga ke depan bisa menjadi hamba yang semakin baik.

Sebagai manusia biasa, saya memang tidak sempurna. Tetapi bukan berarti kita semua bisa santai-santai dan tidak berusaha ke arah yang sempurna. Terutama masalah ibadah. Saya menyadari, ibadah yang saya lakukan masih banyak yang belum sesuai dengan tuntunan. Karena itu, melalui momentum ini, saya membuat komitmen untuk: 
1. mempelajari dan mengamalkan ibadah sesuai tuntunan
2. disiplin dalam ibadah wajib dan menambah intensitas ibadah sunah
3. menambah hafalan alqur'an

Semoga tiga komitmen tersebut bisa selalu saya laksanakan. Allah SWT mudahkan, in syaa Allah. Aamiin 





Sabtu, 21 Maret 2015

Tentang Kuliah DPR [Di-bawah Pohon Rindang]

Suatu siang, saya ada dua jadwal ngajar untuk matakuliah entrepreneurship. Karena pertemuan kali ini diagendakan untuk diskusi kelompok, saya ajak teman-teman mencari suasana belajar yang baru. Cuaca siang itu cukup terik. Jadi kami memutuskan untuk belajar di lapangan upacara tepatnya di bawah pohon rindang. 

Saya sangat terkesan dengan mahasiswa di satu kelas yang saya ajar. Mereka aktif dalam diskusi. Mereka tidak malu dalam bertanya ataupun mengungkapkan pendapatnya. Bahkan untuk tugas yang seharusnya dikumpulkan sebelum ujian akhir semester, mereka hanya perlu waktu satu minggu untuk menyelesaikan tugas itu. Luar biasa semangat teman-teman mahasiswa ini. Saya bangga bisa sharing informasi bersama kalian. Semoga di matakuliah apapun, semangat dan kekompakan kalian tetap terjaga.

Di Belakang Saya Itulah Pohon Rindangnya

Setelah perkuliaahan selesai, saya membuka diskusi dengan teman-teman mahasiswa. Saya tanyakan kepada mereka mengenai tanggapan tentang perkuliahaan di lapangan. Ada sisi positih dan negatif dari metode belajar kali ini. Berikut ini rangkumannya:

+ Suasananya menyenangkan karena hembusan angin sepoi-sepoi
+ Tidak ngantuk, karena supply oksigen ke otak optimal
+ Suasana belajar lebih relax, karena melihat hijaunya dedaunan
+ Lebih mudah menangkap pesan-pesan yang disampaikan oleh dosen.

- Dilihat oleh oranag lewat, jadi konsentrasi sedikit menurun
- Banyak semut
- Karena angin terlalu kencang, saya masuk angin

Sisi negatif yang terakhir itu saya alami sendiri. Ketika adzan ashar sudah berkumandang, saya bersiap untuk pergi ke masjid, ambil wudhu dan sholat berjamaah. Karena terlalu lama berangin-angin, saya pun sempat tiga kali batal. #disitukadangsayamerasasedih. Dan akhirnya saya tidak sholat berjamaah karena sholat berjamaah sudah selesai dilaksanakan. 

Masalah angin itu tidak berhenti pada drama menjelang sholat ashar saja. Ketika saya kembali ke teman-teman mahasiswa dan menjelaskan sedikit tentang materi, tamu tak diundang datang lagi. Iya, saya K*N*UT bunyi tetapi tidak bau dan apesnya ketika mahasiswa sedang konsen mendengarkan penjelasan saya. Kalau ada mahasiswa yang baca blog ini dan tadi ikut kelas saya pasti sudah ngakak guling-guling. But, show must go on.. Saya teruskan aja ngomong, bercerita dan membahas hasil diskusi yang sudah dilakukan. :) 

Rabu, 18 Maret 2015

Catatan Kehamilan dan Kelahiran Anak Kedua

Januari 2015 saya tergabung dalam grup one day one juz (odoj). Keputusan saya ikut grup ini adalah untuk membiasakan diri berinteraksi dengan al qur’an. Susah sekali awalnya untuk bisa kholas 1 juz sehari. Tetapi dengan semangat teman-teman odoj akhirnya saya bisa melaluinya dengan baik. Di hari ke 30 saya mengikuti grup ini, yang artinya hari itu khatam (30 juz) pertama saya di odoj, saya mengetahui kalau saya sedang hamil anak kedua. Sungguh anugerah yang luar biasa. Alhamdulillah.

Saya, suami dan keluarga sangat senang mengetahui kehamilan saya. Tetapi sedikit galau juga karena saat itu anak pertama kami Azzam masih berusia 14 bulan dan masih menyusu. Mungkin karena faktor kegalauan tersebut, Azzam mengalami perubahan perilaku. Yang tadinya mau makan menjadi susah makan dan hanya mau nenen saja. Saya sih tidak merasa keberatan kalau harus menyusui Azzam meskipun sedang hamil. Tetapi kali itu kegalauan muncul dari eyang dan ompung yang meminta Azzam berhenti menyusu karena berbagai mitos alasan. Setelah diskusi panjang, akhirnya saya pun sepakat untuk menyapih Azzam. Sedih rasanya harus berhenti berpelukan sebelum tidur, karena untuk memudahkan proses menyapih, Azzam tidur di kamar eyang. Tetapi saya juga tidak tega kalau harus terus menyusui Azzam, karena dengan terus menyusu, Azzam malah tidak mau makan, maunya nenen terus.

Kegalauan tidak bisa memberikan ASI sampai 2 tahun pun makin lama bisa saya lupakan karena kesibukan saya di kantor dan kehamilan kedua. Kehamilan kedua ini hampir sama dengan kehamilan pertama. Merasa mual dan gampang capek mulai dari awal sampai akhir kehamilan. Tetapi menurut penilaian teman-teman sih saya ini tipe hamil ngebo, yang jarang muntah-muntah. Hehe.

Kehamilan yang kedua ini saya lalui dengan perasaan campur aduk, galau masalah Azzam, stress masalah kerjaan, dan bahagia dengan segala hal mengenai kehamilan. Untuk mengusir perasaan galau, saya ikut kelas yoga hamil dan hypnobirthing di Bidan Sayidah. Ikut kelas yoga hamil dan hypnobirthing ini sangat membantu pada saat proses lahiran. Selain yoga di kelas yang dilakukan seminggu sekali, tetapi lebih banyak liburnya, saya beli gymball untuk latihan di rumah.

Pemeriksaan antenatal saya lakukan di tiga tempat, pertama di RS Baitul Hikmah dengan dr. Lambang, SPOG. Kedua dengan bidan Soraya yang kebetulan masih saudara dan dekat rumah. Yang ketiga tentunya dengan bidan Sayidah, konsultasi sekalian ikut kelas yoga hamil dan hypnobirthing.

Rencana pertama kami sekeluarga sepakat untuk lahiran di bidan dekat rumah saja, karena faktor jarak yang dekat dengan rumah. Ini tidak jadi karena selama kehamilan posisi bayi sering berputar-putar. Hingga memasuki 36 minggu pun masih sungsang dan lintang. Rencana kedua ini sebenarnya hanya rencana saya dan suami untuk melakukan homebirth atau waterbirth di bidan Sayidah. Rencana ini dicancel karena faktor restu keluarga. Padahal saya pengen sekali merasakan waterbirth yang konon katanya lebih nyaman. Rencana ketiga, yang akhirnya berjalan. Saya melahirkan di RS Baitul Hikmah.

Waktu usia kehamilan 32 minggu saya jatuh di depan kantor yayasan pada saat mengisi presensi sore. Karena khawatir, malamnya saya dan suami pergi ke bidan dekat rumah untuk kontrol. Betul saja, posisi bayi sungsang saat itu, dan bidan menyarankan untuk perbanyak sujud. Saya galau tetapi saya coba konsultasi dengan bisan Sayidah via bbm dan saya memperoleh jawaban yang menentramkan hati. Love you full bu Ida. Beberapa hari kemudian saya coba kontrol ke dokter di RS Baitul Hikmah. Rencananya ingin konsultasi dengan dr. Lambang, tetapi ternyata saya salah jadwal, karena ada perubahan jadwal di RS. Baitul Hikmah yang baru ini. Akhirnya daripada pulang, saya coba dengan dr SPOG perempuan, yang kurang memuaskan menurut saya. Tetapi saat itu saya coba bertahan dulu dengan dokter perempuan ini.

Jadwal kontrol berikutnya, saya datang untuk bertemu dokter perempuan ini, ternyata ibunya sudah pulang. Dan dr. Lambang yang sedang praktik saat itu. Akhirnya saya kembali periksa dan konsultasi dengan dokter lambang hingga menjelang lahiran. Seminggu sebelum lahiran sempat diledekin, karena sudah 39 minggu tapi belum lahir juga. Tetapi setelah diperiksa semuanya dalam kondisi baik, dokter hanya berkomentar, kalau si bayi nunggu tanggal cantik. Hehe. Dokter menjelaskan kalau mau lahiran di RS, nanti datang ke RS kalau sudah ada tanda-tanda keluar lendir darah dan kontraksi rutin. Tetapi jika keadaan darurat, misalkan ketuban pecah saya dianjurkan harus segera datang ke RS.

Menunggu itu menggalaukan. Karena kontraksi palsu sudah sering datang, tetapi belum ada tanda akan melahirkan. Tetapi pagi hari 40 minggu kurang sehari, tanda yang dinanti itu muncul. Keluar lendir dan darah dan kontraksi yang sudah mulai rutin. Kali ini sudah yakin kalau sebentar lagi akan lahiran. Sambil menunggu kontraksi saya lakukan pelvic rocking. Ngobrol asik bareng suami dan masih sok-sokan menyuruh suami berangkat ngajar malam dulu. Karena hari itu jadwal kontrol, saya memutuskan malam harinya untuk kontrol ke RS. Baitul Hikmah.

Ba’da maghrib berangkat dari rumah diantar bapak dan ibu, serta sudah siap membawa barang-barang dan gymball. Ba’da isya periksa ke poli kandungan, dan cerita dengan dokter kalau sudah keluar lendir darah. Akhirnya dokter memeriksa dalam, dan ternyata sudah pembukaan 1, tetapi serviks sudah tipis. Dokter memberikan pilihan, untuk pulang atau opname di RS karena perkiraan besok pagi saya akan melahirkan. Saya pilih opname saja karena khawatir buru-buru nantinya. Setelah cek in kamar dan memindahkan barang, saya sempatkan untuk sholat isya dan pelvic rocking lagi sambil ngitung durasi kontraksi.

Sekitar pukul 21.30 kontraksi makin kuat, dan saya mendadak ngantuk. Akhirnya saya putuskan untuk rebahan di bed sambil smsan sama suami. Saya minta suami langsung saja datang ke RS. Eh ternyata mampir rumah dan santai-santai dulu. Karena kontraksi makin kuat, ibu coba panggil bidan yang jaga. Bidan datang memeriksa bukaan ternyata bukaan 7. MashaAllah, kaget sekaligus senang karena prosesnya cepat. Akhirnya saya di bawa ruang bersalin.

Di ruang bersalin sudah ada dua ibu yang juga mau lahiran, yang keduanya lumayan heboh. Kalau saya seperti biasa mendadak kalem kalau mau lahiran. Pembukaan 9 ketuban pecah sendiri. Tidak lama dokter datang dan ternyata pembukaan sudah lengkap dan dengan sekali mengejan lahirlah bayi perempuan mungil nan unyu dengan tangis yang cetar membahana bak rocker.

Kamis, 2 Oktober 2014 pukul 22.15 lahirlah perempuan cantik yang bernama Akifa Jannata Siregar. Berat lahir 3200 gram dan panjang 46 cm. Cukup mungil jika dibandingkan dengan abangnya. Alhamdulillah atas izin Allah prosesnya berjalan lancar dan mudah. Tanpa infus dan insuksi. Saya merasa melahirkan kali ini cukup gentle. Belum genap sehari dokter pun sudah memperbolehkan kami pulang karena kondisi kami berdua yang sudah baik. Tiga hari kemudian kontrol dan dokter menyatakan semua baik dan saya tinggal buat aja program anak ketiga. Hahaha.


Belum genap sehari

Di hari ketujuh disembelihlah 1 kambing untuk aqiqah. Diresmikan namanya dan digunting rambutnya. Semoga Akifa Jannata Siregar tumbuh sehat dan menjadi perempuan salihah. Aamiin. 

Beberapa hal yang menjadi catatan saya di kehamilah dan persalinan kedua ini:
1. Yoga hamil dan latihan pelvic rocking bisa memperlancar persalinan
2. Hypnobirthing sangat membantu mengelola stress saat hamil
3. Makan makanan dengan gizi seimbang agar tubuh sehat dan nutrisi janin terpenuhi
4. Tilawah, membaca terjemahan ataupun mendengarkan murothal tiap hari ini juga sangat membantu mengelola stress
5. Mencari tempat pemeriksaan antenatal yang nyaman
6. Survei lokasi persalinan
7. Membuat catatan kehamilan, karena hamil itu menyenangkan (ini lupa saya lakukan) hehe



Selasa, 17 Maret 2015

Tentang Anak Susah Tidur

Saat berumur 26 bulan

Azzam yang hari ini tepat berusia 28 bulan adalah balita yang cerdas dan lincah. Kami sebagai orang tua sangat bangga kepadanya. Untuk ukuran anak seusianya, dia termasuk anak yang mudah menirukan apapun yang dia lihat. Dia suka sekali bernyanyi, meskipun terkadang dengan kata-kata yang belum begitu jelas. Dia juga sudah hafal huruf hijaiyah dari alif sampai ya’ meskipun hanya dalam lagu.

Celoteh Azzam kadang membuat kami sebagai orang tua sedikit heran. Suatu malam azzam sudah di kasur menjelang tidur. Ayahnya yang menemani dia sebelum tidur itu. Keadaan sudah sunyi, dan melihat Azzam diam saja tetapi tidak tidur, terjadilah diskusi singkat yang mengagetkan.
Ayah: abang Azzam lagi apa? Kok belum tidur?
Azzam: Azzam lagi sibuk Ayak.
Ayah: (dalam hati) hahahaha kosakata baru lagi, abang azzam sudah tahu SIBUK.

Azzam termasuk anak yang susah tidur malam. Tidur paling cepat pukul 22.00 dan itu jarang terjadi. Paling sering antara pukul 23.00 sampai 01.00. Inilah yang membuat ayah dan mamanya, terutama ayahnya, sering teler karena kebanyakan begadang menemani Azzam.

Kami khawatir dengan kebiasaan Azzam yang satu ini. Karena tidur untuk anak balita itu sangat penting untuk tumbuh kembangnya. Selain itu kami juga khawatir terhadap berat badannya yang susah gemuk. Kami curiga salah satu penyebabnya adalah karena sering kurang tidur.

Berbagai cara sudah kami lakukan agar Azzam bisa tidur lebih awal seperti balita pada umumnya. Mulai dari mamasang lampu kamar yang redup, masuk kamar lebih awal, sampai pura-pura ikut tidur di sampingnya. Dan sayangnya cara-cara tersebut belum berhasil.

Diskusi dengan mertua sudah kami lakukan, tetapi tidak banyak mendapat solusi karena mertua sendiri juga sering susah tidur. Hehe. Kemudian seperti biasa, sebagai orangtua yang kekinian, kami coba mencari artikel di internet untuk mengatasi anak susah tidur. Setelah baca ini, ini, dan ini, kami ingin mencoba tips mengatasi anak susah tidur sebagai berikut:

1.     Memastikan bahwa anak tidak lapar
Ini penting sekali dilakukan karena jika lapar anak akan terbangun tengah malam dan akan susah tidur kembali. Ini beberapa kali terjadi pada Azzam, minta makan atau minum tengah malam, kemudian seger dan ayah&mamanya teler. L

2.     Menjauhkan anak dari gadget atau mainan
Gadget atau mainan, dua hal inilah yang sering kali membuat Azzam susah tidur. Bahkan dia betah menonton animasi anak-anak kesukaannya hingga tablet habis baterai. Setelah itu tetap belum bisa tidur juga. Padahal ayah&mamanya masih banyak kerjaan dan hanya bisa dikerjakan kalau anak-anak sudah tidur. L

3.     Membuat suasana kamar yang nyaman
Kamar yang bersih, lampu kamar redup, ada aromaterapi, dan bebas nyamuk itulah yang membuat anak bisa nyaman tidur di kamar. Selama ini saya sebagai emak rempong sering sekali tidak membuat kamar nyaman karena buku-buku bertebaran dimana-mana, kertas-kertas, tugas mahasiswa masuk kamar juga, bahkan jemuran juga kadang masuk kamar. L

4.     Menciptakan ritual tidur
Ritual tidur yang ingin kami terapkan adalah pipis, cuci muka dan gosok gigi. Ganti baju tidur dan pijat ringan untuk Azzam. Untuk pijat ringan ini penting untuk mengurangi kelelahan karena Azzam aktif sekali di siang hari.

Empat hal itu yang akan kami coba terapkan ke Azzam agar dia bisa tidur lebih cepat dan istirahat dengan nyaman di malam hari. Semoga berhasil dan Azzam bisa tumbuh optimal menjadi anak yang sholih, sehat, cerdas, dan ceria. Aamiin.

Senin, 16 Maret 2015

Tentang Bau Ketek Ayah


Suatu malam yang sudah larut, saya dan anak-anak sudah nyenyak tertidur. Tiba-tiba, si kecil akifa terbangun dan mulai menangis. Saya coba susui, tetapi dia menolak. Bahkan tangisannya pun semakin keras. Saya coba gendong dan peluk, tetap menangis semakin keras lagi. Saya raba perutnya, balur dengan minyak telon, masih menangis dengan alis yang semakin merah. Saya bingung, takut juga kalau tangisan gadis kecil ini akan membangunkan ompung dan neneknya atau bahkan mengganggu istirahat tetangga.

Saya coba bawa akifa keluar kamar menuju kamar kerja ayahnya. Ternyata ayah belum tidur. Ayah coba gendong akifa yang masih menangis. Berpindahlah gadis kecil ini ke pelukan ayahnya. Dan, seketika itu juga dia diam, senyum-senyum. Alhamdulillah akifa kembali ceria. Setelah 5 menit, ayah coba letakkan akifa untuk saya susui, ternyata dia kembali menangis. Akhirnya ayah peluk akifa lagi, sambil bernyanyi, hingga kemudia akifa tertidur pulas di pelukan ayah.


Setelah akifa kembali tidur, saya berbincang sedikit dengan ayah, membahas kenapa akifa galau malam ini. Analisis saya, akifa galau karena rindu bau asem ketek ayah. Dan kali ini, nenen pun tidak bisa mengalahkan bau ketek ayahnya. Meskipun sering galau kalau ayah tidur terlalu larut bahkan pagi. Saya ambil sisi positifnya, karena ada bala bantuan yang siap membantu ketika anak-anak rewel tengah malam. 

Selasa, 03 Maret 2015

Ternyata obat diare itu ....

Diare ....

Gambar diambil dari sini


Tidak nyaman sekali rasanya ketika kita harus berulang kali bolak balik kamar mandi untuk BAB yang super lancar itu. Lemas, itu yang saya rasakan setelah 6 hari berturut-turut diare. 

Sebelumnya saya memang seringkali mengalami diare. Diare yang saya alami ini kalau menurut saya karena faktor psikologis. Kenapa saya bisa menyimpulkan seperti itu? Karena berdasarkan pengalaman yang saya alami, diare ini biasa datang di saat saya merasa grogi, misalnya menjelang ujian, seminar, sidang, dan moment wow lainnya.

Diare kali ini saya tidak minum obat diare, karena saya sedang menyusui. Saya hanya minum antasida, untuk mengobati maag yang biasa ikut datang ketika si diare ini datang. Tiga hari pertama diare, saya masih santai. Saya hanya memperbanyak cairan untuk mencegah dehidrasi. Antasida juga tidak saya minum, karena saya merasa masih kuat. Tiga hari berikutnya, gejala maag seperti kembung, mual, serdawa bau comberan mulai muncul. Saya mulai lemes, frekuensi BAB pun semakin sering. Akhirnya saya menyerah dan minum antasida sebari memperbanyak asupan cairan. 

Di hari keenam, saya mulai resah. Saya khawatir diare ini belum sembuh juga ketika besok pagi saya harus memberikan kuliah perdana di semester genap ini. Argh, semakin galau saya, diare semakin menjadi. Kemudian suami menawarkan beberapa solusi mulai dari tidak usah ngajar dulu sampai pakai diapers ke kampus. Yang terakhir ini saya tolak. Hahaha, ga kece rasanya kalau ke kampus pake diapers.

Senin subuh hingga ketika mandi sebelum saya berangkat ke kampus, diare masih terus datang. Meskipun lemas, saya niatkan saya tetap akan datang ke kampus. Semoga ga diare di kampus. Sugesti itu terus-terusan saya tanamkan. Tak lupa selalu berdoa agar Allah memberikan kesembuhan. 

Alhamdulillah, atas izin Allah, diare dan lemas ketika di rumah hilang seketika. Saya bisa memberikan kuliah dengan lancar tanpa terganggu hasrat ingin BAB. Saya ceritakan ini kepada suami. Dan kesimpulan saya dan suami adalah bahwa pergi ke kampus dan memberikan kuliah adalah obat diare saya kali ini. 

Lucu sekali kalau dirasakan. Tetapi ini kenyataan. Ternyata saya sudah rindu memberikan kuliah kembali setelah cuti dan resign. Sudah lama sekali memang saya tidak merasakan bahagianya sebagai pengajar. Dan ternyata rindu mengajar inilah yang menjadi penyebab diare berkepanjangan kali ini. Semoga ke depannya saya diberi kemudahan mengelola pikiran, agar tidak perlu diare lagi hanya karena galau.

Senin, 02 Februari 2015

Fried Chiken with Ground Koya Tofu

Sudah lama sekali kami (saya dan suami) tidak makan siang bersama. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan, tetapi lebih sering kami bergantian makan agar bisa mengkondisikan Azzam dan Akifa. Alhamulillah di siang yang cerah ini ketika anak-anak sedang tidur siang kami berkesempatan makan bersama. Sungguh nikmatnya menyantap sambal ikan tongkol bersama mentimun sebagai lalapan.

Saya pun menyalakan tv dan memilih NHK untuk ditonton sambil menikmati makan siang. Acara yang kami tonton pun sangat mendukung, yaitu “Dining with the chef”. Acara yang dipandu oleh Tatsuo Saito dan Yu Hayami sering saya tonton 2 tahun yang lalu ketika belum pindah ke kendal. Kali ini chef membuat 2 masakan yang terlihat sangat sehat. Masakan yang sepertinya sangat mudah dibuat adalah “Fried Chiken with Ground Koya Tofu”.

Untuk membuat Fried Chicken ini memerlukan bahan-bahan sebagai berikut:
Dada ayam tanpa lemak
Telur
Tepung terigu
2 slices Koya tofu
Seledri air
½ lemon untuk garnish
Minyak sayur untuk menggoreng dengan teknik deep-frying

Tahap-tahap membuatnya terlihat sangat mudah. 
Pertama, Potong dada ayam menjadi potongan yang mudah dimakan. 


Kedua, Parut dengan halus Koya tofu. 


Ketiga, Gulingkan potongan dada ayam di atas tepung, kemudian gulingkan di atas telur yang sudah dikocok, dan gulingkan di atas Koya tofu yang sudah diparut. 


Keempat, Goreng dengan metode deep-fry sekitar 1 menit dengan minyak yang bersuhu 170 derajat celcius. 


Kelima, taburi fried chicken dengan sedikit garam. 


Terakhir sajikan di piring dengan garnish irisan lemon dan seledri air.



Terlihat mudah dimasak dan enak rasanya. Kendalanya adalah di Indonesia, terutama kota kecil Padangsidimpuan ini mana ada Koya tofu. Hmm kira-kira bisa diganti dengan apa ya??  

nb: resep dan semua foto diambil dari sini.

Minggu, 01 Februari 2015

Babak Baru Drama Kehidupan

Drama kehidupan keluarga kami mencapai babak baru dengan banyaknya perubahan yang sudah kami alami. Saya dan suami pindah kerja yang mengharuskan kami pindah domisili dari Kendal kembali ke Padangsidimpuan. Karena itu anak-anak pun ikut kami boyong ke kota kelahiran suami.

Cerita dimulai ketika bulan September ada pengumuman pembukaan CPNS di IAIN Padangsidimpuan. Mengetahui informasi tersebut, saya yang merasa sudah nyaman dengan pekerjaan kala itu bertekad untuk tidak mendaftar. Tetapi setelah melalui perdebatan panjang semalaman dibarengi dengan drama nangis bak ngiris bawang, saya dan suami sepakat mendaftar. Menjadi dosen adalah minat saya dan suami. Sedangkan memiliki anak dosen pns adalah keinginan mertua yang paling utama. Itu lah yang menjadi salah satu motif kenapa akhirnya saya dan suami ingin mendaftar tahun ini. Di sisi lain untuk jurusan kami, ada 2 formasi berbeda yang dibutuhkan. Artinya saya dan suami tidak harus bersaing untuk mendapatkan posisi yang sama.

Setelah melalui drama yang panjang untuk meminta restu dari orang tua, akhirnya kami memperoleh izin untuk mendaftar. Konsekuensi dari pilihan ini tentu saja bapak dan ibu akan kesepian karena kami harus pindah dari Kendal. Ini sedikit lucu sebenarnya karena sepertinya PeDe sekali akan diterima, sedangkan mendaftar saja belum. Meskipun berat, alhamdulillah bapak ibu memberikan dukungan penuh kepada kami. Terutama berkat doa bapak ibu dan mertua juga Allah banyak memberikan kemudahan dalam prosesnya.

Masa cuti sebelum melahirkan saya gunakan untuk mendaftar online, mengirim berkas, hingga menyiapkan dokumen-dokumen penting lainnya. Masa galau menunggu jadwal tes pun tak sengaja dilalui dengan gembira karena kami kedatangan anggota keluarga baru. Perempuan mungil, sehat, dan in syaa Allah salehah yang kami beri nama Akifa Jannata Siregar. Tak lama kemudian surat panggilan tes cat pun datang. Kami harus melalui tes pada tanggal 14 November 2014 di Padangsidimpuan. Akhirnya setelah berunding dengan suami dan mengumpulkan tabungan untuk ongkos ke Padangsidimpuan, kami pun mendapat tiket tanggal 10 November 2014 dengan rute SRG-JKT-PLZ. Kali ini kami memilih rute tersebut dengan pertimbangan kami harus membawa Akifa yang saat hari keberangkatan masih berusia 38 hari.

SRG

PLZ (Sibolga)

Perjalanan panjang dari Kendal-Semarang-Jakarta-Sibolga-Padangsidimpuan saya, suami dan Akifa pun alhamdulillah berjalan lancar. Hanya sedikit kendala ada di suami yang punya masalah telinga berdenging ketika landing. Kali ini sedikit parah karena suami sampai keringat dingin. Sesampai di Padangsidimpuan kami masih mempunyai waktu untuk menyiapkan mental dan fisik untuk menghadapi CAT.

Hari yang ditunggu tiba, dengan sebelumnya menyiapkan ASIP untuk Akifa, saya berangkat ke lokasi tes diiringi dengan doa suami dan orang-orang yang menyayangi saya. Saya berangkat sendiri karena suami mendapat giliran sesi 2 sedangkan saya sesi 1. Alhamdulillah setelah tes berakhir saya dan suami mendapat nilai yang cukup memuaskan. Kami menduduki peringkat teratas di formasi masing-masing. Sedangkan suami yang hingga akhir sesi pun menduduki peringkat teratas dari semua formasi. Saya sangat bangga dengannya J

Masa-masa menunggu tahap tes selanjutnya pun dilalui dengan drama di mana kami harus resign dari tempat kerja yang lama akibat masa cuti sudah habis. Berat sekali bagi saya berpisah dengan teman-teman seperjuangan dan mahasiswa yang, sunggu sudah seperti anak, adik, dan sahabat. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada teman-teman untuk berjuang mencapai apa yang diinginkan. Juga untuk mahasiswa, in syaa Allah akan dimudahkan dan tetap semangat meskipun harus berpisah dengan dosen rempong, cerewet, galak, tapi ngangenin seperti saya.

Pengumuman tes lanjutan pun sudah datang. Di hari kami melakukan tes lanjutan ini, saya sangat grogi karena saya harus mengalahkan 2 pesaing yang tentu saja sama-sama mumpuni dan sudah berpengalaman. Saya berusaha sekuat tenaga menampilkan yang terbaik. Karena saat itu yang ada di pikiran saya, ketika saya gagal, saya sudah membuang uang dengan sia-sia. Uang apa??? Ongkos pesawat Semarang-Sibolga tidak murah, jadi sayang sekali jika ini sia-sia karena saya kalah akibat tidak sungguh-sungguh dalam ujian.

Sebulan lebih kami menunggu dengan galau di Padangsidimpuan. Saya selalu merindukan sulung kami, Azzam yang terpaksa kami tinggal karena belum pasti juga kami diterima. Jadi sayang ongkos. Apalagi dia kan sudah 2 tahun yang artinya ongkos pesawat pun sama dengan penumpang dewasa. Setelah tes kedua, kami memutuskan untuk pulang ke Kendal mengurus dokumen-dokumen serta melepas rindu dengan Azzam dan bapak ibu.


Baru sehari di Kendal, alhamdulillah kami mendapat kabar baik. Alhamdulillah kami lolos cpns menjadi calon dosen di IAIN Padangsidimpuan. Dan drama pamitan dengan keluarga dan tetangga di Kendal pun dimulai. Keluarga dan tetangga sedih karena harus berpisah dengan Azzam yang unyu-unyu itu. Azzam yang lahir di Padangsidimpuan akan kembali ke tanah kelahirannya. Semoga kami sekeluarga diberi kemudahan, kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi drama kehidupan berikutnya.

Menuju Padangsidimpuan

Keceriaan Azzam di Ruang Tunggu

Keunikan Masjid Syech Sulaiman Lubis Alkholidy

Assalamualaikum wr. wb. Senin, 13 juni 2016 saya dan rombongan melakukan perjalanan dari kota padangsidimpuan menuju kabupaten mandaili...